Who Lives Sees Much. Who Travels Sees More. Adventures, Backpacking, Photography.


Google




Petunjuk ini saya tulis sebagai ungkapan agar rekan-rekan berhati-hati dalam memesan tiket murah di Airasia (AA). Sebagai catatan, guidelines ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang lebih utuh tentang praktek LCC (low cost carriage) dengan konsekuensinya.



Saya sering menemui keluhan penumpang lain ketika mencoba AA. Salah satu sumber yang disalahkan menurut saya adalah Terms dan Conditions (Syarat dan Ketentuan AA) yang tidak diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sehingga membingungkan calon penumpang dan pemesan tiket. Satu hal yang cukup menganggu adalah juga tidak munculnya FAQs (Frequently Asked Questions) di situs AA Indonesia –diakses per 23 Nov 2009 11:32 PST sehingga pertanyaan yang praktis dan sangat berguna menjadi tidak terjawab. AA Indonesia mengandalkan Call Center untuk menghandel pertanyaan kustomer yang sebenarnya sudah tersedia secara jelas di website. Ini saya katagorikan sebagai MENGABAIKAN kustomer yang mempunyai keterbatasan berbahasa Inggris yang biasanya muncul dalam bahasa kontrak yang mbulet alias rumit dan butuh pemahaman lebih,



Perlu ditegaskan, saya adalah kustomer setia dan tidak pernah kecewa dengan AA. Ini sebagai sharing untuk berpikir jernih sebelum memesan tiket dan siap dengan pertanggungjawabannya.



1. Pada Budget Flight, salah satu strategi marketing adalah ‘impulsive’ yakni calon penumpang tertarik dan segera memesan dalam waktu yang terbatas, dan jumlah kursi yang dibatasi. Calon penumpang menjadi berlomba-lomba untuk memesan dan terkadang tidak membuat pertimbangan matang. Konsekuensinya adalah jika jadwal kita bergeser maka biaya penggantian nama, skedul dan fee admin menjadi sumber pemasukan AA berikutnya.



2. AA adalah perusahaan internasional dengan operator di tingkat negara dengan kondisi dan kualitas yang berbeda. Terdapat 3 operator, yakni Malaysia (AK), Indonesia (QZ), Thailand (FD) dan khusus Airasia X (D7) yang menangani penerbangan jarak jauh (long haul). Ini juga dipahami bahwa walaupun websitenya dalam satu portal tetapi kebijakan tarip, pajak, biaya tambahan dll di lapangan dan praktik adalah bergantung pada masing2 negara. Jadi pelajari tiket, siapa yang mengeluarkannya. Jika rute pesawat adalah Jakarta-Singapura maka operatornya adalah AA Indonesia (QZ), sedangkan rute Jakarta-Phuket adalah dioperasikan oleh AA Thailand (FD).



3. Pada masa SALE, tiket dijual dengan ketentuan2 tertentu yang mengikat. Salah satunya yang sering dipakai adalah tidak bisa direfund. Pembatasan ini membuat pemesan tiket yang udah beli tapi tidak bisa berangkat memilih menghanguskan tiket atau mengganti pada hari lain yang fleksibelitasnya kurang. Fenomena hangus tiket ini juga diindikasikan karena harga yang murah ataupun ketidak mauan penumpang untuk membayar biaya fee. Jika misalnya harga tiket (inc tax) adalah Rp 100ribu, sedangkan ongkos penggantian adalah Rp 150ribu, maka penumpang ditempatkan pada pilihan sulit. Karena itu teliti dahulu syarat ketentuan pada periode penjualan sale.



4. Processing Fee Service adalah tarip pemesanan yang dibebankan pada penumpang yang memesan TIDAK melalui onlen. Termasuk fee untuk refund (pembayaran kembali), infant (anak-anak), change flight/name (ganti nama atau penerbangan) plus layanan itu sendiri (Service). AA juga menarik RM100/GBP20 untuk penggantian nama dan penerbangan yang dilakukan via internet. Misalnya, saya mempunyai tiket KL-London ingin merubah jadual penerbangan. Dengan onlen saya dikenai RM100 sedangkan jika lewat Call Center/Kanto Perwakilan/Kantor Penjualan saya dikenai service RM 30, menjadi RM130. Secara umum perubahan di tiket akan lebih murah melalui onlen walaupun tetap dikenai biaya tambahan. Besarnya processing fee ini juga cukup membingungkan karena didasarkan pada masing2 operator (baca nomer2 diatas).



5. Pada penjualan FREESEAT atau tiket gratis, adalah metode iklan yang cenderung mislead. Gratis disini adalah tidak termasuk pajak dan biaya tambahan lainnya walaupun dalam harga ditulis Rp. 0 tetapi pada akhir transaksi penumpang tetap membayar dengan tarip yang disebut sangat murah. Di Eropa, praktek Freeseat ini mendapat kritik pedas ketika Ryanair memasarkan strategi yang sama. Pihak Badan Pengontrol Iklan (Advertising Standard Authority) di Inggris akhirnya melarang iklan ini. AA sendiri memanfaatkan lemahnya kontrol pengawas media di Malaysia dan Asia khususnya untuk meloloskan Kampanye Freeseat ini.

Dalam keterangan pers 7 Januari 2004, Menteri Urusan Konsumen dan Penjualan Domestik, Tan Sri Muhyiddin Yassin dengan pihak Manajemen AA diwakili Direktorat Hukum Abdullah Nawawi Mohamad menyatakan tidak ada masalah misinterpretasi dan tidak ada unsur kesengajaan pada penjualan tiket murah. Dalam pernyataan yang sama, AA berargumen bahwa praktik ini juga dipakai oleh maskapai budget terdahulu seperti EasyJet, RyanAir dan Virgin Blue. Dalam hal ini rupanya AA tidak memberikan tambahan penjelasan bahwa praktek Freeseat tsb sudah dilarang di Eropa sejak November 2006 dan ditinggalkan di Australia. Gratis TIDAKSAMADENGAN murah.



6. Biaya Kemudahan ataupun Convenience Fee. Terhitung mulai 2 Nov 2009, AA menerapkan Biaya Kemudahan ini pada SEMUA transaksi dengan menggunakan kartu kredit, kartu debit atau kartu charge. Biaya ini dimasukkkan per orang per rute jalan ketika pemesanan. Yang cukup mengherankan adalah AA tidak menerapkan Biaya Kemudahan ini pada kartu debit langsung (Direct Debit -bukan kartu debit Mastercard atau debit Visa). Besarnya antara SGD$5 hingga RM5. Jadi memesan tiket untuk 3 orang rute Singapura-Jakarta pp maka bersiap untuk membayar biaya tambahan sebesar SGD5 x 3 x 2 menjadi SGD30 dengan menggunakan kartu kredit.



7. Mewaspadai Pajak Bandara (Airport Tax) tidak termasuk dalam harga tiket. Di Indonesia, tiap bandara juga menerapkan tarip berbeda antara domestik dan internasional. Untuk Jakarta, domestik bertarip 40ribu dan internasional adalah 150ribu. Sedangkan di Yogyakarta berlaku 25ribu dan 150ribu. Sedangkan bandara di Cambodia menerapkan USD$25. Malaysia sendiri menerapkan pada rute2 tertentu, yang biasanya adalah operator Airasia X. Misalnya Taipei-Malaysia atau London-Malaysia.

8. Bagasi Supersize dan ketentuannya. Semua penerbangan AA adalah mendapatkan free bagasi tangan maksimum 7kg. Tetapi jika punya bagasi tas (checked baggage) maka calon penumpang harus membayar berdasarkan tingkatan beratnya. AA menerapkan dua system yakni pembayaran lewat pre-book dengan onlen dan pembayaran di konter ketika check in. Secara umum prebook online lebih murah daripada lewat bandara. Proses menambahkannya pun hanya cukup menggunakan Manage My Booking dan akan muncul dalam pembayaran terpisah. Pembayaran di bandara, jatuhnya sangat mahal jika bagasi itu diatas 15kg karena dihitung kelebihan bagasi (excess baggage) yang dihitung per kilo (lihat kolom Services Charges). Dalam FAQs di situs AA dijelaskan ukuran dan berapa banyak bagasi baik untuk bagasi tangan ataupun bagasi cek. (note: again, ngga diterjemahkan oleh AA).



9. Salah satu yang dijual oleh AA adalah Pick A Seat, yaitu kemampuan untuk MEMILIH nomor tempat duduk. Apakah jika kita memesan tiket itu tidak otomatis mendapatkan kursi? Ini yang sepertinya dieksploitasi oleh AA dalam melihat perilaku penumpang khususnya Indonesia. Betapa jelas terlihat ketika kita berebut boarding menuju pesawat, seperti halnya naik kereta ketika Lebaran. Pick Seat ini dijual dalam dua katagori, yakni Standard dan Hot Seat. Katagori Hot seat nampaknya adalah beberapa baris yang dekat dengan pintu darurat. Sesungguhnya semua penumpang telah ditempatkan tempat duduk, terutama jika sudah melakukan check in.

Penumpang merasakan khawatir jika tidak bisa duduk sejajar dengan pacar atau istri misalnya. Pick A Seat adalah semacam garansi bisa DUDUK BERSAMA terutama jika pemesan itu bersifat grup keluarga. Bagi pejalan yang sendirian, rasanya membeli garansi ini tidaklah perlu. Untuk mengalahkan Pick A Seat tanpa mengeluarkan biaya adalah dengan melakukan cek in secara dini. AA menyediakan waktu hingga 2 hari-4jam sebelum penerbangan dengan metode cek in lewat hape (Mobile Check In), Mesin Cek In (Kiosk).



10. Perlukah membeli asuransi penerbangan GoInsure atau tidak. Asuransi di AA juga tergantung pada masing2 operator per Negara. Malaysia adalah Multi-Purpose Insurans Bhd, Thailand adalah Krungthai Panich Insurance Co. Ltd (www.kpi.co.th), Indonesia -PT. Asuransi Dayin Mitra, Tbk, Singapura -EQ Insurance Company Limited (www.eqinsurance.com.sg), China Shenzen adalah The Ming An Insurance Co. Ltd, dan China Macau adalah Asia Insurance. Pertimbangan untuk mengambil asuransi ini didasarkan pada kemungkinan pembatalan, penurunan kualitas, kerusakan bagasi, ataupun penundaan penerbangan. Jumlah dan besaran bervariasi dari pembayaran RM6 untuk domestik Malaysia. Yang agak mengherankan adalah GoInsure untuk Indonesia, Syarat dan Ketentuannya mengacu pada Malaysia, yakni untuk Internasional/Domestik ditangani AIG untuk one way, sedangkan yang return (pp) ditangani Multi Purpose Insurans. Ini cukup membingungkan terutama bagi penumpang yang belum pernah mencoba AA dan mengalami kesulitan memahami siapa dan pihak mana untuk berurusan masalah asuransi jika terjadi klaim.



Petunjuk diatas ini, semata-mata untuk memberikan pemahaman apa saja yang perlu dipikirkan ketika memesan tiket. Juga agar mempersiapkan diri jika terjadi hal-hal diluar dugaan ataupun merasakan biaya yang tersembunyi. Guidelines ini juga membatasi pada layanan tiket murah berikut produk terkait, dengan tidak memperhatikan AA byproduct lain seperti GoHostel dan GoHoliday.


Semoga bermanfaat.

Labels: , , ,



Untuk kota-kota disekitar London yang jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa dilakukan kunjungan sehari pp, saya rekomendasikan beberapa:

1. Warwick mengunjungi Warwick Castle yang buat saya paling lengkap dan menarik karena kerjasama dengan artis patung lilin di Museum Madame Tussuad jadi suasananya hidup banget. Mereka punya event di saat Natal. Akses kesana dari London bisa dengan kereta sekitar 1jam 45menit langsung dari London Marylebone. Ini cara menuju kesana.


2. Cambridge mengunjungi universitas tertua, menyusuri lorong-lorong sempit, gedung kampusnya yang berusia ratusan tahun. Buat saya sangat photogenic dan kandungan sejarah yang dalam. Silakan dibaca disini http://www.visitcambridge.org Akses menuju Cambridge bisa dengan bis (coach) atau kereta (langsung dari London King Cross). Coba buka website diatas dan klik Travel and Maps. Photo tentang Cambridge bisa dilihat disini.


3. Bath menyaksikan pemandian natural air panas peninggalan romawi, salah satu warisan dunia Inggris juga. Saya sendiri mengagumi arsitektur dan sangat suka dengan konstruksi romawi terutama detail membangun saluran/pipa air panas. Sayang banget kalau dilewatkan, karena Bath dijuluki kota untuk indulgence para aristokrat sejak pendudukan romawi atas pulau Inggris sebelum Masehi atau dua milenia yang lalu. Ohya disana ada Jane Austen Center. Kalau suka baca novel romans klasik inggris seperti Pride and Prejudice pasti kenal karakter Mr. Darcy. Saya sendiri belum sempat ke Jane Austeen Center, tapi mereka hanya tutup pas 25 Desember dan tahun baru. Menuju Bath dari London sekitar 90 menit kereta lewat London Paddington atau 120miles perjalanan kendaraan (diukur rata2 sekitar 1.5-2jam). Ini tautan http://visitbath.co.uk

4. Stratford Upon Avon, adalah kota kelahiran Shakespeare, mengunjungi rumah kediaman ketika menetap di kota ini. Juga pengalaman teater di Royal Shakespeare Company (RSC) yang sesunguhnya (catatan: ada Shakespeare Globe di pinggir sungai Thames di London jika hanya punya waktu sebentar dengan durasi pertunjukkan lebih pendek). Kota Startford sendiri kecil banget, tapi asri dan indah karena dilewati jalur kanal. Untuk menuju Stratford ditempuh dengan kereta dari London Marylebone dan bis. Petunjuk lengkap bisa dibaca di Visit Stratford




5. Greenwich, mengunjungi Royal Observatory Greenwich (http://www.nmm.ac.uk/). Melihat apa arti GMT Greenwich Mean Time yang sebenarnya, menyaksikan observatorium dan planetarium, berdiri di zero longitute bumi, sejarah tentang asal muasal time zone dst. Salah satu warisan dunia pula di Inggris yang sayang untuk dilewatkan. Greenwich agak diluar London dikit, mengarah ke Canary Wharf yang sekarang jadi distrik bisnis. Turun dari kereta di Cutty Shark Station, trus jalan kaki dikit sekitar 10menitan. Photo lengkap disini


6. Stonehenge, salah satu warisan dunia di Wilthire dekat Salisbury. Stonehenge perlu apresiasi tinggi terutama sejarah dunia dan arkeologi karena isinya cuma batu berdiri hehehe. Juga karena dalam proses renovasi besar2an, dan letaknya di pinggir jalan besar rasanya mungkin akan kecewa kalau ekspektasi-nya terlalu tinggi. Letaknya yang outdoor kemungkinan juga agak menyulitkan bagi yang mengunjungi pada musim dingin.


7. Kew Garden di barat daya London (http://www.kew.org/). Kew Garden paling sip dikunjungi musim semi atau menjelang musim panas disaat bunga sedang mulai mekar. Letak Kew lebih dekat dari London dan sangat mudah diakses dengan publik transport. Dari pusat London ambil kereta underground District Line dan turun di Richmond. Photo tentang Kew bisa dilihat disini

Labels: ,




(klik gambar untuk lebih jelas)

Dari daftar pendaki Indonesia di Himalaya, terlihat ekspedisi Everest Musim Gugur 1996 oleh Clara Sumarwati dan Gibang Basuki TERCATAT dalam Himalayan Databases oleh Miss Hawley. Ini sebagai koreksi tulisan saya sebelumnya yang tidak menemukan ekspedisi Clara baik di Himalayan Databases ataupun Himalayan Index (Alpine Club UK). Ia dinyatakan positif lewat laporan seasonal Miss Hawley yang rely ke American Alpine Journal (AAJ) terbitan 1997. Untuk cross-check, saya gunakan 8000ers.com (thanks untuk mbak Rina), yang datanya adalah kombinasi dari Miss Hawley dan jurnalis/ahli statistik lain. Ekspedisi Everest'96 Clara Sumarwati dinyatakan positif oleh editornya.

Masalah apakah Clara sampai puncak atau tidak, saya baru meminta konfirmasi pada pendaki2 negara lain yang dinyatakan Clara bertemu di rute Utara pada bulan September 1996 dari keterangannya di Majalah Gatra. Diantaranya adalah Alex Harris dan seorang pendaki USA (saya masih mencari kontaknya).

Pencarian para Sherpa yang bersama dengan Clara juga tengah saya usahakan, dan semoga ada kabarnya. Ini karena dua dari mereka cukup kontroversial dan dikenal di Kathmandu. Terimakasih pada mas Prasumadi yang memberi tahu dua orang Sherpa Clara, yakni Sherpa Ang Gyalzen dan Sherpa Chuwang Nima terlibat dalam tim Ekspedisi Showa Alpine Club Jepang 1988. Yang menarik adalah seperti temuan Mas Prasumadi, Sherpa Gyalzen (berbeda dengan Sherpa Ang Gyalsen) adalah juga anggota sherpa pada tim Ekspedisi Musim Semi Everest Malaysia Everest'97 (balapan dengan tim Indonesia'97) yang mengantarkan dua orang warga negara Malaysia mencapai puncak tanggal 23 Mei 1997, sebulan setelah tim Indonesia'97.

Thanks atas peran pembaca blog/milis yang berkenan memberikan sharing pencarian. Bantuan apapun sangat saya hargai.

Labels: , , ,



Kemarin hari Sumpah Pemuda saya isi dengan sebuah penghormatan besar bagi para pemuda/pemudi Indonesia yang telah merintis mountaineering di Indonesia. Disela pencarian Clara Sumarwati, saya makin terbuka pada peran mereka di era 80-90an. Tanpa melupakan para pendaki Indonesia yang telah mendaki gunung diluar Himalaya, inilah mereka yang akan selalu tercatat dalam sejarah mountaineering Indonesia.

Saya tidak perlu memberikan keterangan apakah pendakian mereka berhasil atau tidak, mencapai puncak atau tidak, pendaki sipil atau militer. Usaha dan jerih payah mereka patut kita hargai sebagai proses bangsa ini untuk makin berjaya. Sangat banyak peran dan kontribusi mereka dan semoga akan terus menginspirasi para pemuda saat ini untuk membawa harum nama Indonesia di kancah dunia internasional.


Inilah daftar tim baik pendaki dan pelatih/penasehat dalam ekspedisi Indonesia di Himalaya periode 80-90an.

Ekspedisi Pumori Musim Semi 1988
Ahmad Gunawan
Eddy Djuandi
Djo Djo Sunardjo Marsana
Veronica Moeliono
Trinovi Sugiarto Senapi
Sukumoyo
Nandang Syamsudin


Ekpedisi Kangchengjunga Musim Semi 1989
Eddy Djuandi
Achmad Gunawan
Trinovi Sugiarto Senapi
Djojo Sunarjo


Ekpedisi Makalu Musim Semi 1990
Taufiz Afriansyah
Irawan Ari Muladi
Gatot Hendratno
Dedi Agus Indra Setiawan
Iskandar
Tumbur Haposan Parlimongan Nainggolan
Bambang Setio Reharjo
Rachmat Rukmantara
Mamay Salim


Ekspedisi Annapurna IV Musim Gugur 1990
Aryati
Puspita Nursari
Evie Rossetyawati
Santinalia
Imas Erni Sufraeni
Clara Sumarwati
Octavianus Matakupan
Nicolas Waworuntu

Ekpedisi Everest Musim Gugur 1994
Anton Patandung
Gibang Basuki
Hendri Chaniago
Jantje Marmuaja
Ranu Misran
Clara Sumarwati


Ekspedisi Nuptse Musim Panas 1996
Endang Suhendra
Achmad Fadillah
Suharjo


Ekspedisi Everest Musim Gugur 1996
Clara Sumarwati
Gibang Basuki


Ekpedisi Everest Musim Semi 1997 (sisi selatan)
Iwan Setiawan
Edhie Wibowo
Adiseno
Asmujiono
Darlin
Galih Donikara
Iwan Irawan
Misirin
Ripto Mulyono
Rochadi
Sixida Sugiarto
Suparno
Edi Waluyo


Ekspedisi Everest Musim Semi 1997 (sisi utara)
Sudarto
Daryowantoro
Achmad Gunawan
Erick Kusmana
Octavianus Matakupan
Rudi Nurcahyo
Sunardi
Tarmudi

Labels: , , ,



Disela menelusuri cerita Clara Sumarwati saya menemui tulisan Anatoli Boukreev yang menjadi guide Tim Ekspedisi Indonesia ke Everest'97. Tulisannya saya pandang cukup penting terutama aspek jeda waktu antara pendakian Clara di musim gugur'96 dan pendakian Kopassus/MapalaUI/Wanadri musim semi 97 yang hanya 6bulan.

Saya menemukan bahwa tulisan Boukreev sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan dipasang di beberapa blog mapala ataupun (telah) beredar di milis lain. Saya kesulitan melacak siapa sebenarnya penerjemah (baik yang original ataupun terjemahan kedua dst). Saya melihat antara posting satu dengan yang lain saling berbeda, membuat saya makin yakin bahwa sumber internet terkadang tidak bisa dijadikan sumber utama.

Ada tulisan yang tidak lengkap, ataupun hanya mengalih-bahasakan yang berhubungan dengan tim Indonesia saja. Perlu diperhatikan Boukreev adalah orang Kazakh dan merekam personal account dalam bahasa Rusia yang kemudian diterjemahkan oleh kawannya di US dan ditulis di buku.

Tulisan Boukreev diambil dari bukunya berjudul The Climb: Tragic Ambition on Everest bagian Epilog atau sekitar 15halaman dari ratusan. Sebulan setelah terbit, Boukreev tewas dalam avalanches di Annapurna I. Saya pengen tulisan Boukreev dialihbahasakan sesuai dengan aslinya sebagai rasa hormat saya padanya. Bagaimanapun ia sudah berjasa besar bagi Indonesia. Tanpa mengurangi peran para penerjemah terdahulu saya kemudian mengulangi dari nol, ketimbang memperbaiki terjemahan yang sudah ada. Semata-mata agar bisa dibedakan versi saya dan versi terdahulu. Saya beri nama BOUKREEV_v1.0 (versi pertama karena kemungkinan ada koreksi/kolaborasi dari teman-teman).


Adapun perbaikan dan beberapa hal yang saya lakukan:

  1. Nama Camp adalah berdasar urutan jumlah dalam Romawi seperti Camp I, II, III dst sesuai dengan tulisan asli.
  2. Anatoli tidak pernah menyebut Kopassus dalam tulisannya, melainkan ‘military climber’ (ketika memberikan opini tentang kondisi antara pendaki sipil dan pendaki militer) atau ‘Indonesians’ atau ‘Indonesian member’, sehingga saya merujuk pada penulisannya tanpa menambahkan spesifik seksi dari militer.
  3. Untuk jam atau waktu, dalam artikel asli menggunakan kata, bukan angka (mis seven thirty bukannya 07:30), maka diterjemahkan menjadi pukul setengah delapan atau pukul tujuh tigapuluh menit.
  4. Untuk tanggal, tulisan asli menggunakan dua bentukan yakni angka dan kata. Misalnya twenty-eighth atau 28th. Dalam terjemahanan saya gunakan satu bentuk yakni angka (tanggal dan bulan, yakni tanggal 28 April) untuk menjaga kronologis tetap jelas.
  5. Saya tetap mempergunakan bahasa Inggris yang menunjukkan nama bentukan geologis seperti South Col ketimbang Sadel Selatan, Balcony ketimbang Balkoni, atau Kangshung Face ketimbang Dinding Kangshung. Semata-mata untuk menyeragamkan pembicaraan, dan memudahkan merujuk pada buku/jurnal yang menyebutkan hal yang sama.
  6. Menghapus kata2 yang menunjukkan ‘dramatisasi’ yang tidak ada di tulisan asli ataupun kata2 tambahan yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.
  7. Menerjemahkan dengan lebih akurat dalam konteks pendakian, dengan berusaha mematuhi aliran tulisan baik alinea dan tanda baca.

Saya berharap teman-teman yang punya waktu untuk ikut mengoreksi atau melakukan kolaborasi jika merasakan alih bahasa saya kacau. Jika tertarik silakan japri untuk membaca file tulisan Boukreev di buku dalam bahasa Inggris. Saya senang jika kita saling mengoreksi, agar saya lebih hati2 nanti.

Untuk mengurangi perubahan yang tidak diketahui, saya simpan file dalam bentuk pdf yang bisa dibaca/diunduh disini:
http://tinyurl.com/boukreev1-0

atau kalau kesulitan silakan diunduh di:
http://www.scribd.com/doc/21669025/BOUKREEV-v1-0final

BOUKREEV_v1.0final






Berbagai komentar sampai ke saya tentang tulisan sebelumnya: Clara, Everest, Prabowo dan kisah Beautiful Mind. Tulisan itu saya publish pertama di milis Highcamp (Senin 12 Oct 09 on 9:06am WIB) dan ceritaambar.com. Sehari kemudian, yakni Selasa 13 Oct 09 on 09:45 WIB, saya repost di blog multiply yang relay summary ke facebook.

Kisah yang saya paparkan adalah sebuah analisa dari sekian tahun dan upaya penggalian data yang tentu sangat terbatas karena saya mengandalkan pada sumber sekunder. Tulisan Gatra misalnya, tidak bisa saya dapatkan ‘asli’ melainkan dari kutipan-kutipan dan reposting yang ditempelkan di blog2 pribadi. Karena itu kemungkinan terjadi manipulasi sangat besar. Tetapi sebagai langkah awal cukup banyak membantu karena berkat mereka pula saya bisa mencari tahu lebih dalam.

Sikap saya dalam kasus Clara adalah mencoba menelusuri catatan prestasinya dari luar negeri. Ini disebabkan susah sekali mendapatkan data yang lengkap tentang ekspedisi2 yang dilakukan Indonesia. Entah karena tidak ada dokumentasi lengkap, ataupun jurnalis yang mengkhususkan soal ini[1]. Terlepas dari teori konspirasi yang saya paparkan di tulisan sebelumnya, sebenarnya bukan itu yang menjadi titik tolak pencarian.

Ketertarikan awal tentang Clara berangkat dari kontroversi pendakiannya, terutama masalah photo [2]. Pengakuannya diragukan kalangan pendaki dalam negeri terutama masalah bukti foto dan sertifikat dari CMA China Mountaineering Association (CMA) dan China Tibet Mountaineering Association (CTMA). Foto yang nampak di Gatra adalah tentu saja muka seorang pendaki dengan masker oksigen dalam balutan down suit[3]. Tidak ada yang bisa menebak apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia Clara atau Sherpa, apakah itu di puncak Everest atau di bawahnya. Sertifikat yang dibilang Clara, dituduh sebagai hasil membeli dari Asosiasi Mountaineering China.

Dalam beberapa photo di Gatra, ada dua photo di puncak. Yakni ketika ia (asumsinya Clara) mengacungkan ice axe-kapak es dengan tangan kanannya ke udara sedangkan satu photo lagi adalah ketika ia memegang bendera merah putih diterpa angin. Photo terakhir ini menarik karena terdapat jejak tanggal di sana. Kamera analog dan film memberikan jejak tanggal pengambilan sama seperti kamera digital dengan data EXIF. Karena kualitas posting internet dan scanning, saya tidak bisa melacak tanggal puncak. Ini terutama letak jejak tulisan analog tadi tertutup oleh kemilau salju dan hasil scan dengan resolusi yang rendah. Saya masih berharap ada yang mempunyai hard copy Gatra tahun 1996 mengirimkan ke saya atau bersedia memberikan hasil scan yang tentu dengan tehnologi lebih baik dibanding 13 tahun yang silam[4].

Rencana saya adalah membandingkan photo2 Clara dengan para pendaki dunia yang mencapai puncak dari Tibet. Perlu diketahui ada banyak jalur menuju Everest. Dalam catatan everesthistory.com ia menggunakan jalur NC-NE (North Col-North East Ridge atau gigir Timur Laut). Sedangkan dari buku Everest: A Mountaineering History (1999) karya Walt Unsworth, Clara tercatat menggunakan rute North Ridge-North Face. Ini juga dinyatakan positif oleh Reinhold Messner –pendaki Italia ternama di bukunya Everest: Expedition to the Ultimate (1999).

Dalam halaman 254 Messner mengutip Clara menggunakan rute North Col/North Face atas nama Indonesian Expedition. Clara dinyatakan berhasil mencapai puncak Everest bersama dengan Sherpa Kaji, Sherpa Gyalzen, Sherpa Ang Gyalzen, Dawa Tsering, dan Sherpa Chuwang Nima dalam nomor urut ekspedisi 255.[5]

Clara mendaki pada bulan September ketika di Tibet/Nepal disebut post monsoon atau berakhirnya musim badai (dari halaman 664 buku Unsworth di bagian Appendix 4). Jadi membandingkan photo dan kondisi puncak adalah mencari hasil bidikan para pendaki yang mencapai puncak pada sekitar bulan itu ataupun pada cuaca yang hampir sama.[6] Yang cukup menarik adalah tim-tim setelah bulan itu tidak mampu mencapai puncak kecuali tim dari Korea Selatan yang berhasil melalui rute Nepal (South East Ridge), rute yang berbeda dengan yang diambil Clara.

Tim yang disebut-sebut Clara berbagi rute dengannya seperti Afrika (yang benar adalah Afrika Selatan dipimpin Alex Harris) dan tim gabungan berbagai negara (US-Chech-Yugoslovakia dan Chech-UK-Slovakian) semuanya tidak berhasil mencapai puncak. Termasuk upaya illegal dari dua orang Belgia yang ketauan di Icefall dan dilarang naik gunung Everest selama 10tahun.


Dalam keterangan di majalah Gatra, Clara menyebut bahwa ia meminta jasa merintis rute North Ridge pada tim-tim ekspedisi lain. Menurut saya ini bisa dimaklumi. Karena Clara dan tim Indonesia pertama kali datang ke rute ini pasca monsoon di bulan September. Yang berarti rute lama tertutup salju dan kemungkinan rusak. Sebenarnya yang dimaksud Clara adalah bukan membuat rute baru, melainkan lebih pada “menemukan kembali” rute yang tertutup salju tebal dan hilang ataupun susah ditemukan.




Sedangkan soal sertifikat dari CMA dan CTMA, saya tidak bisa memberi komentar.[7] Kecuali saya harus mengkonfirmasikannya pada lembaga ini langsung. Kesulitan saya adalah bahasa dan birokrasi. Juga saya perkirakan adalah dokumentasi, apakah kedua lembaga ini menyimpan copy sertifikat atau tidak. Let’s see. Saya masih gerilya mencari konfirmasi sana sini.

Saya menegaskan bahwa sertifikat itu TIDAK menunjukkan apakah Clara sampai di puncak atau tidak. Melainkan semacam ijin ekspedisi dan sebagai surat sakti untuk diperbolehkan mendaki. Ini karena rute yang ditempuh Clara adalah melalui Tibet yang saat ini dikuasai China dengan cara kekerasan di tahun 60an. Pemerintah China menjaga situasi Everest dan perbatasan ini karena banyaknya orang Tibet yang menyeberang lari menuju India –tempat Dalai Lama memimpin dengan melewati pegunungan Himalaya.


Di tahun 1960an, seorang jurnalis wanita asal Amerika Elizabeth Hawley memulai data tentang para pendaki yang melakukan ekspedisi di wilayah Himalaya. Tidak hanya Everest, tetapi mencakup Cho Oyu hingga K2 yang masuk wilayah Pakistan. Karena begitu berharganya klaim seseorang mendaki gunung Eeverest, ia akhirnya menjadi semacam juru konfirmasi, baik dari sisi Nepal ataupun Tibet. Miss Hawley melakukan wawancara langsung dengan pendaki, menanyai mereka dengan pertanyaan pedas dan tajam, serta melakukan kros cek dengan tim lain yang mendaki bersama. Pertanyaannya seperti, cuaca ketika mendaki, disisi mana ia meletakkan kemah, pukul berapa ia mulai naik dsb. Deretan pertanyaan yang mungkin sangat mengganggu bagi pendaki tetapi sangat penting bagi catatan sejarah. Seorang pendaki dinyatakan sah jika Miss Hawley berkata iya. Tingkat akurasi dan hasil investigasi yang menyeluruh ini membuat reputasi Miss Hawley sebagai sejawaran eskpedisi Himalaya paling disegani. Kompilasi data Miss Hawley ini kemudian dibuat dalam program software yang dsebut himalayandatabases.com

Belajar dari kesalahan sejarah, di tahun 1950an tim China berhasil mencapai First Step di rute Tibet, tetapi dibilang bohong oleh para pendaki Barat, khususnya Eropa. Ini merupakan pukulan bagi mereka karena China baru masuk panggung lomba Everest dalam lima tahun. Bagaimana mungkin pemain baru mampu menandingi kemampuan George Mallory dan Andrew Irvine yang menghilang di tahun 1924? Selain arogansi pendaki Barat terhadap kemampuan pendaki Asia, ini juga menunjukkan bahwa klaim pendaki perlu ditelusuri dengan lebih seksama dengan pikiran terbuka.[8]


Saya hanya bisa meminta pada publik untuk tidak menghakimi seseorang sebelum bukti menunjukkan yang sesungguhnya. Bukti primer dan sekunder baik tertulis dan tidak, bisa ditelusuri yang semoga ini yang akan dilakukan oleh Tim Menpora. Kejanggalan yang membuat keraguan, memang bisa dijelaskan. Dan teori konspirasi akan selalu hidup, menjadikan bumbu kisah ekspedisi Clara makin menarik. Bukankah misteri akan membuat kisah makin dikenang?




Catatan kaki:

[1] Saya jadi inget Norman Edwin, pahlawan adventur Indonesia yang juga jurnalis Kompas. Ia banyak menulis di jurnal Wanadri dan memberikan laporan ekspedisi di era hangatnya kegiatan ini tahun 90an. Didiek Samsu –rekannya mendaki Aconcagua juga wartawan Jakarta Jakarta.

[2] Ini karena sebelumnya saya pernah menganalisa photo2 Mayangsari dengan metode digital forensik, yang bisa dibaca disini

[3] Baju yang didesain memberikan kehangatan ekstra pada ekspedisi di tempat ekstrem seperti Alaska, Himalaya, Antartika. Diisi dengan bahan alami yakni bulu angsa tebal yang membuat pendaki terlihat seperti astronout. Salah satu contohnya disini.

[4] Tolong banget jika bersedia, sudilah menscan dari majalah dengan resolusi minimal 300dpi.

[5] Saya sertakan screen shot dari halaman kedua buku tsb, yang menyebut Clara, dengan menggunakan fasilitas ‘look inside’ dari amazon.com –toko buku online. Catatan : screen shot tidak bisa ditampilkan di milis, tetapi muncul di blog ceritaambar.com

[6] Sejarah iklim dan temperature Himalaya banyak sekali tersedia secara literatur, ataupun deskrepsi pendaki dalam rentang waktu yang bersamaan dengan medio pendakian Clara.

[7] Contoh sertifikat yang diberikan CMA bisa dilihat disini.

[8] Klaim tim China ini dikuatkan dengan film dan photo, tetapi ditolak oleh pendaki Eropa. Namun penemuan mayat Mallory di tahun 1996 oleh Ekspedisi Pencarian Mallory & Irvine membuktikan bahwa China memang hampir mencapai puncak Everest di tahun 1950, tiga tahun sebelum Hillary dan Tenzing.

Labels: , , ,



Empat tahun lalu ketika saya mulai tersedot tentang sejarah Everest, sebuah nama terlintas. Clara Sumarwati.

Clara who?

Itu adalah reaksi saya ditengah upaya mencari berita tentang ‘perlombaan’ tim wanita Asia Tenggara untuk menaklukan Everest. Saat itu 2006, tim putri dari Singapura sedang dalam proses kampanye lewat media massa. Target mereka jelas sekali, yakni menjadi tim putri Asteng pertama yang menancapkan bendera di atap dunia.


Tim Putri Indonesia kemudian muncul sebagai tandingan. Dalam suasana hingar bingar dan kompetisi yang ketat dengan negara tetangga, sungguh ini dalam posisi yang tidak nyaman. Tsunami dan gempa di Aceh memakan ratusan ribu jiwa, terutama di kepemimpinan SBY yang seumuran jagung. Indonesia dalam carut marut.

Kaitan politik, bencana alam dan kegiatan adventur ternyata saling berhubungan. Bukankah keputusan mengirim tim putra Indonesia ke Everest di tahun 1997 adalah juga politik dengan alasan nasionalisme? Bahwa seorang Indonesia harus lebih dulu menjejak puncak dunia sebelum negara tetangga, dengan alasan apapun, dengan taruhan nyawa sekalipun.[1]

Disinilah kisah Clara mulai masuk panggung adventur dan politik. Terlahir 6 Juli 1967 sebagai anak ke 6 dari delapan anak Marcus Mariun dan Ana Suwarti, Clara menghabiskan masa kecil di Jogya hingga kuliah di Universitas Atmajaya jurusan Psikologi Pendidikan. Di tahun 1991 ia bergabung dengan tim pendaki Indonesia untuk menaklukan Annapurna IV yang mengantarkan rekannya Aryati menjadi wanita Asia pertama di puncaknya. Pada Januari 1993, Clara bersama tiga perempuan Indonesia menaklukan Aconcagua, salah satu puncak 7summit di Amerika Latin.[2]

Clara bersama tim PPGAD Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat –diduga sebagai sempalan militer untuk menandingi tim militer Kopassus/Wanadri melakukan ekspedisi low profile di tahun 1996. Menurut Gatra, tim ini hanya mampu mencapai ketinggian 7000m di punggungan South Col (gigir atau sadel gunung antara Everest and Lhotse rute pendakian dari Nepal).

Walau gagal, Clara berusaha menggalang dana untuk melakukan upaya kedua menancapkan merah putih pada 17 Agustus 1995 [3] yakni tepat 50 tahun kemerdekaan Indonesia. Clara kemudian mendapat kepastian bahwa upayanya akan dibantu oleh pemerintah yang diwakili Panitia Ulang Tahun Emas Kemerdekaan Republik Indonesia yang saat itu dibawah Sekretariat Negara.

Clara terpaksa mengundurkan ekspedisinya bulan Juli 1996 setelah memperoleh kepastian dana (yang saya sinyalir adalah upaya orang tententu untuk ‘mengganggu’ Prabowo mengirim anak buahnya menjadi orang pertama di puncak dunia ie membuat ia menjadi pahlawan).

Perlu dicatat, Gatra sendiri menurunkan berita tanpa mengaitkan dengan kondisi politik karena begitu sensitivenya situasi era menjelang berakhirnya Orde Baru. (kerusuhan Mei, desas-desus kup oleh Prabowo dan militer, mundurnya Suharto hingga chaos-nya situasi politik di tanah air). Tetapi sinyalemen itu diungkapkan Clara dengan jelas terutama kisah tentang adanya upaya dari pihak Prabowo dan militer untuk membuatnya membatalkan ekspedisi. [4]

Upaya untuk menghentikan Clara dimulai dari ringan hingga berat. Terakhir saya kontak, ia tidak mau menyebutkan secara detail. Tetapi bagi yang akrab dengan suasana represif di akhir 90an tentu bisa memahami. Saya sendiri ketika mendengar versinya hanya bisa bilang WOW!

Butuh setengah jam untuk mencerna. Saya mencoba untuk tidak menuduhnya pembohong ataupun tukang ngarang. Sungguh ceritanya adalah kombinasi antara kulminasi terror dan paranoia, imanjinasi dan suspense. Saya berusaha meyakinkannya bahwa ketakutan dan kekhawatiran itu sudah tidak ada. Sejarah menunjukkan Prabowo tidak menjadi pengganti Suharto. Dan ia terpaksa keluar Indonesia untuk menghindari balas dendam politik.

Pada 27 Agustus 1996 [5]pukul 1600 ditemani empat orang Sherpa (Dhawa, Ghalzen Kecil, dan Kaji,), Clara mencapai puncak Everest . Ia berdoa dengan 50X salam Maria, menyanyikan Indonesia Raya sambil memegang bendera merah putih. Berpose di puncak dengan majalah Time bersampul Presiden Suharto.[6]

Kabar tentang seorang Indonesia berhasil mendahului tim ‘resmi’ menaklukan Everest tentu diterima dengan ketidak percayaan. Sebagian besar pendaki meyakini bahwa Clara hanyalah membual, berimajinasi. Terutama ia tidak bisa memberikan bukti kuat. Salah satu bukti adalah photo dirinya yang berada di puncak Everest.[7] Tentu saja kecemburuan dan faktor sexist berperan disini. Atmosfer adventur Indonesia dalam kompetisi individual yang kuat membuat klaim Clara seperti cerita dongeng. Bukan saja kecemburuan dari pendaki laki-laki tetapi muncul pula nada ketidak percayaan bahkan dari rekan pendaki perempuan.[8]

Clara sendiri setiba di tanah air kemudian menghadap Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia yang saat itu diketuai Wismoyo Arismunandar. Dalam tahun yang sama ia menerima Bintang Nararya yang dikeluarkan oleh Sekneg dengan tandatangan Presiden RI.

Yang membuat ragu apakah Clara berhasil mencapai puncak adalah tidak adanya catatan resmi. Sejak awal tahun 50an ekspedisi pendakian Everest baik sisi Nepal dan Tibet dicatat oleh seorang jurnalis perempuan dari Chicago Amerika bernama Elizabeth Hawley. Meski bukan pendaki, Miss Hawley dikenal dengan catatan kronikel akurat mengenai ekspedisi, baik yang sukses maupun gagal. Berhasil mencapai puncak atau tewas. Miss Hawley ini melakukan wawancara langsung pada pendaki dan Sherpa, melakukan kros cek, bahkan meminta konfirmasi deskripsi tempat dan suasana.[9]

Statistik Miss Hawley kemudian dikompilasi berdasarkan kronologis tahun pendakian dan dipandang sebagai catatan paling akurat dan bisa dipercaya. Ketika era internet medio akhir tahun 90an masih samar dan tidak punya kredibilitas, mountainzone.com adalah satu2nya sumber yang kemudian mengutip data dari Miss Hawley sebelum ditayangkan di internet worldwide. Di tahun 2004, databases kompilasinya kemudian dibuat dalam bentuk CD (Visual Vox Pro) dan buku bersama Richard Salisbury dalam himalayandatabase.com

Menariknya, Miss Hawley tidak menyebut Clara Sumarwati dalam statistik Himalayan Databases. Orang Indonesia yang tercatat adalah Mr. Asmujino mencapai puncak 11.10.1996 melewati rute South E. Ridge dalam nomor urut 58 dan Mr. Misrin sampai puncak 26.4.1997 lewat South E. Ridge dengan nomor urut 68. Walaupun dalam database disebutkan Misirin masuk tim Korea tetapi kemungkinan ini adalah konfirmasi mencapai puncak dikabarkan oleh tim Korea atau proses konfirmasi klaim Misrin dianggap positif oleh Miss Hawley pada tanggal itu lewat kros cek dengan anggota tim Korea.

Namun dalam referensi everesthistory.com Clara Sumarwati adalah pendaki Everest ke 88 dari Indonesia mencapai puncak pada 26 September 1996 melewati rute NC-NE Ridge (North Col-North East Ridge atau gigir Timur Laut). Ini dikuatkan dengan keterangan laporan Gatra bahwa dua buku : Everest karya Walt Unsworth (1999), dan Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (1999) mencantumkan nama Clara sebagai pendaki Everest Indonesia pertama.


Kemungkinan tidak tercatatnya Clara karena masalah ijin/climbing permits. Seperti diketahui Everest menjadi komoditi pemerintah Nepal dan China untuk mengeruk keuntungan finansial sebanyak mungkin. Fee untuk mendaki di Everest bisa mencapai $70,000 untuk tim beranggotakan 10 orang. Karena mahal inilah, pendaki banyak yang mencoba di luar musim mendaki (April-Juni) ataupun menggabungkan diri dengan anggota tim lain tanpa keterikatan kebangsaan.

Keraguan tentang keberhasilan Clara ini makin menguat ketika sosoknya menjadi misterius. Ia dikenal tidak ramah pada media ataupun orang yang tidak mempercayai prestasinya. Ia juga menjadi begitu paranoia akan adanya orang-orang yang (masih) berusaha menghentikannya ataupun membungkam mulutnya. Ini juga menjelaskan kenapa keberhasilan tim Kopassus/Wanadri diberitakan besar-besaran ketimbang kesuksesan Clara yang cenderung ‘ditiadakan’.

Dalam korespondensi, saya menangkap ketakutan itu, walaupun saya coba meyakinkannya bahwa kondisi politik tidaklah seperti dekade silam. Agaknya trauma dan paranoia mengambil alih kesadarannya. Luka dalam itu, yang entah apakah kita bisa memakluminya atau tidak telah meninggalkan jejak mendalam. Kekecewaan dan keputusasaannya untuk meyakinkan orang lain nampaknya membawa pada tepi kesadaran.

Seorang teman berkomentar tentang Clara. Ia seperti John Forbes Nash, seorang ahli matematika yang berjuang puluhan tahun menghadapi schizophrenia dalam film Beautiful Mind. Seorang yang menderita penyakit ini dituduh publik sebagai orang gila. Ia bisa saja ngoceh ngga karuan, ataupun hidup dalam dunianya sendiri. Batas antara jenius dan madness terkadang hanya benang tipis. Tetapi bukan berarti seorang penderita adalah pembohong. Saya hanya ingin menegaskan bahwa Clara belum tentu seorang pembual. Sebagai orang berpikiran terbuka, saya menyadari bahwa mungkin ia mencapai puncak, dan mungkin juga tidak. Tapi jikalaupun iya, tidak akan bisa menghapus sejarah bahwa Clara-lah orang Indonesia pertama yang mencapai puncak Everest.

Bagaimanapun Clara adalah seorang pahlawan bagi adventur Indonesia. Ia bisa membuktikan bahwa seorang ‘independen’ adventure bisa melakukan tugas mulia tanpa puluhan dan ratusan anggota tim. Betul, ia seperti seekor elang yang sendirian. Tetapi seekor elang dengan beautiful mind tentulah lebih menakutkan.


Semoga Clara lekas sembuh.

=======

Catatan kaki:

[1]Anatoli Boukrev, guide tim Indonesia dalam bukunya The Climb membilang,” There is discipline, they understand the risk. I told them, you can succeed -- it's not likely the first time, maybe 25 per cent, but you CAN succeed. You can also die.
[2]Hasil investigasi tim Gatra dan Jakarta Pos yang terbit February 1996.
[3]Menurut saya, target ini sangat ambisius karena Agustus di Nepal sudah memasuki moonson atau musim badai. Umumnya pendaki Everest mencoba peruntungan jendela waktu antara April-Mei dengan kondisi cuaca yang lebih ramah.
[4]Keterangan Clara ini adalah dari koresponden pribadi antara saya dan dia di bulan September 2006.
[5] Kronologis dan deskrepsi camp yang diberikan Clara via reporter Gatra Abdul Latief Siregar tidak begitu detail termasuk ketinggian dan situasi geografis camp.
[6] Saya perkirakan adalah majalah Time terbitan Juli 1996 dengan headlines The Land of the Communist Lost.
[7] Clara mengungkapkan bahwa photo2 pendakian sebagian musnah dalam kebakaran di tempat kosnya, sebuah scenario yang diyakininya sebagai upaya mengdeskretditkannya.
[8]Tim eskpedisi laki-laki memberikan degradasi bahwa ekspedisi perempuan selalu bisa ‘dijual’ kepada sponsor ketimbang tim mayoritas laki2 ataupun campuran. Kecemburuan ini amat jamak terjadi dalam dunia adventur, tidak hanya terjadi di Indonesia. –baca Savage Mountain The Life and Death of the First Women of K2.
[9]Metode pencarian data secara konvensional ini bisa dibaca di buku biografi Elizabeth Hawley, I’ll Call You in Kathmandu.

Related Posting:
Indonesian Everest's Women Team 2007 : A Sound of Dripping Water



Hampir semua orang punya kamera saku digital, tapi sedikit yang bisa memaksimalkan fungsi didalamnya. Kebanyakan pejalan dengan kamera saku mengeluh dengan hasil yang kurang memuaskan. In the end, mereka menyalahkan kamera dan berlomba-lomba untuk membeli DSLR.


Pertanyaannya adalah apakah dengan DSLR akan menghasilkan foto yang lebih bagus? Jawabnya bisa iya dan tidak. Iya jika kamu udah mengerti aspek fotografi dan tahu bagaimana mengakali keadaan. Tidak jika kamu ngga ngerti konsep dasar membuat foto yang bagus. Kamera hanyalah alat untuk menyiasati keadaan. Yaitu bagaimana dengan kondisi dan alat terbatas kita bisa mendapatkan hasil yang ngga kalah dengan kamera jagoan.


Berikut adalah tips untuk memaksimalkan fungsi kamera:



1. Kenalan dengan kamera. Luangkan waktu untuk membaca Buku Manual Teknis yang biasanya ada dalam boks. Baca dengan seksama sembari kamera di tangan siap diutak-atik. Ikuti petunjuk disana, mulai dari hal sepele seperti mengganti batere, menggunakan default fungsi ataupun merubah setting (Menu).


2. Coba dulu, tak usah malu. Yang namanya kamera baru pasti banyak hasil yang jelek. Dengan kamera digital, kita tinggal delet ajah. No worry kan?

Pahami setiap fungsi dan dicoba beberapa kali. Trial dan error disekitar rumah, dicoba pada objek yang sederhana. Misalnya bunga di halaman, barang2 pribadi di meja belajar/kantor.


3. Patahkan mitos bahwa untuk menghasilkan foto yang bagus, kudu ke tempat bagus. Dalam kenyataannya tak jauh dari rumahpun bisa menghasilkan karya yang menawan. Misalnya food photo, macro photo (seperti binatang dan bunga).


4. Thinking small then big picture. Dengan kamera digital kita memakai untuk poto2 lansekap yang menampilkan keindahan alam. Tapi pikirkan juga detail didalamnya. Misalnya jalan berdebu, batu alam, bunga, orang yang kita temui ataupun hal kecil yang menarik.


5. Bermain dengan cahaya. Prinsip dasar kamera adalah menangkap cahaya yang masuk dan merekamnya. So memahami perilaku cahaya, intensitas (banyak sed, arah dan kedalaman akan membuat gambar lebih bermakna. Cahaya adalah kunci utama untuk mendapatkan hasil yang cakep, karena disinilah kamera akan dipaksa untuk bekerja mengantisipasi keadaan yang tidak bersahabat.


6. Tahu kapan menggunkan lampu flash. Ini penting terutama jika tidak mau mempergunakannya. Photo outdoors cenderung mengandalkan matahari sebagai sumber cahaya, sedangkan indoor harus bermain dengan flash.


7. Komposisi dan permainannya. Coba dulu memahami apa itu komposisi. Yakni merancang foto dalam format dan bentuk. Ada permainan garis, sudut ambil, perspective ataupun mencoba mengaduk-aduk hukum komposisi (yang sering disebut rules of 3rd) Untuk belajar ini, adalah dengan banyak melihat karya orang lain dan mengenali kenapa menyukai foto itu (Flickr direkomendasi). Cobalah melihat foto dari sudut fotografer, yakni bagaimana sebuah foto ini terjadi. Menebak gimana si fotografer mampu membuat foto yang tidak biasa.


8. Lakukan kritik pada karya sendiri. Ajak kawan yang sudah berpengalaman untuk memberikan masukan. Coba gunakan tema misalnya dilihat dari komposisi dulu kemudian dari tata cahaya lantas ke teknis. Kita kudu terbuka atas kritik orang lain dan juga mengakui kekurangan kita. Bila perlu catat untuk percobaan berikutnya.


9. Stick with the theme. Untuk lebih berkonsentrasi mencoba kamera, gunakan tema tertentu misalnya foto pohon atau daun. Gunakan banyak komposisi dan setting dari kamera untuk melihat perbedaannya.


10. Eksperimen. Eksperimen. Eksperimen. Dengan banyak melihat karya orang, mencobai kamera hingga batas maksimum niscaya kamu bakal tahu sampai mana kemampuan kamera. Ada hal2 yang tidak bisa dilakukan kamera saku yang setiap pemilik harus tahu kelemahannya.



Untuk lebih detail tentang latar belakang pengambilan foto berikut disini.


Kamera : Canon PowerShot A720 IS

Lokasi : hutan di Big Basin Redwods State Park

Cuaca/Waktu : cerah, banyak cahaya diambil sekitar tengah hari.

Tantangan kondisi : Pohon dengan sangat tinggi membuat kanopi di bawahnya menjadi teduh, tapi sinar langsung masih menyelinap.

Teknis yang dipakai : Macro setting No Flash. Program (P) : ISO Auto, WB Auto, -0.3 (Flash), Evaluative focus, Quality Superfine.


Labels: ,





Karena banyaknya pertanyaan tentang pendemik global flu H1N1 berikut perkembangan terakhir, mungkin sumber informasi dibawah ini bisa membantu memantau situasi.

1. World Health Organisation (WHO) mendedikasikan penuh untuk memberikan updates terbaru, yakni perkembangan jumlah penderita/korban meninggal. Disitu juga ada peta yang bisa diunduh untuk melihat penyebarannya. WHO juga bisa diikuti melalui Twitter di http://twitter.com/whonews

2. Buatlah 'berita waspada' dengan menggunakan Google News Alert. Gunakan kata kunci "swine flu" atau "H1N1". Gnews akan mengirimkan perkembangan berita dengan mengirim pada email anda atau per RSS Feed. Untuk set silakan kesini

3. Cek lembaga seperti CDC (Center for Disease Control and Preventation). Disana terdapat informasi warning tentang travel dan tingkatan/level dari kondisi endemic flu berikut perkembangan secara global. CDC meneyediakan penjelasan lengkap dari apa saja yang harus dilakukan sebelum, selama dan setelah perjalanan. Walaupun konteksnya adalah negara USA tetapi info disana sangat bermanfaat. CDC juga mendedikasikan khusus untuk para traveller termasuk pada pelaku industri penerbangan untuk mengenali penderita flu yakni disini

4. Menggunakan Peta Kondisi di Health Map berisi berbagai endemik yang terjadi di dunia. Silakan pilih misalnya hanya ingin melihat H1N1 dengan mengklik pilihan. Peta ini menyajikan cukup lengkap sumber data baik endemik manusia ataupun hewan atau kombinasi.

5. Semenjak 16 Juli 2009, WHO menghentikan perhitungan jumlah korban tetapi tidak menghentikan memonitor kondisi. Walau begitu mereka tetap updates situasi terakhir. Guardian (koran dari UK) Datastore memberikan interaktif peta dan data dengan tetap meneruskan perhitungan dari sumber bisa dipercaya (terdapat beberapa caveats -prekondisi yang dijelaskan disana). Twitter disini

6. Carilah sumber berita lokal pada destinasi yang direncakan. Misalnya, anda hendak ke Malaysia atau Singapura cari sumber/kantor berita sana. Gunakan Google News Regional Malaysia (catatan : Indonesia dan Thailand ngga ada, tetapi coba kata kunci dengan nama negara).

7.Jika anda menuju negara tadi dengan pesawat, coba dilihat situs maskapai. Beberapa maskapai seperti Malaysia Airlines atau Singapore Airlines memberikan alert atau important notice bentuknya tautan kecil sebaris tapi dihalaman muka yang memberikan links (tautan) untuk ditindak lanjuti. IATA (International Air Transport Association) juga memberikan penjelasan lengkap disini dengan pertanyaan dan jawaban yang bisa diunduh pdf. Atau bisa dibaca halaman khusus untuk traveler disini.

8. Untuk kondisi terakhir endemik flu H1N1 di Indonesia, silakan buka di situs Departemen Kesehatan RI di halaman muka yang terus diupdate.
Have safe journey!


Sumber Mashable dengan tambahan pribadi.

Labels: , , ,




All I remember about Eiger-Indonesia is they are probably the early player for producing outdoor gears mainly backpacks. I never actually try them out as I could not afford the price, or not really put attention on the functions when I was starting this passion.

So when Heni contacted me to ask an article published in CeritaAmbar blog to appear on their bimonthly newsletter, well it's a sweet surprise.

Talking about Outdoor Shops in Indonesia, I have vague memory. It was dingy, dark, dusty and even rusty. Location's wise also a bit problem. Most of the shop is just small corner one which is adequate for retail. But the interior really freak me out. There weren't enough light that allow me to see details of the gears, also the way they were arrange the items seems not really good in division. Either mis-match nor understand the function of each gear.

Most shop also have few stocks, specially if you are living outside big cities like Jakarta, Bandung or Surabaya. You will also encounter some fake products, like The North Face or some fancy Berghaus. In the past, Indonesia used to be off-shore production of big company. In recent years, most of those move to Vietnam due cheap materials and labour cost.

The only chance to get a good deal was using the 'insider man' to gather rejected export gears -product couldn't pass quality control to been bought in bulk. It's usually have some minor problems, sometime not significant. To get better deal, you have to understand what you are looking for. That's what small retail do, by selling rejected items, selling again for a good amount of profit.

The victim here is end-customer, people have few or no experiences for choosing a right gear. Because the shop's attitute not helping you dealing with many choices or finding the ones that fit with you. Another problem is lack of education about the gear itself (or to be precise lack of will from some people to share their knowledge about this). When I was in highchool hiking club, there was zero conversation or lesson about gears. How to choose a good backpacks, what boots that suit to tropical country like Indonesia, what jacket that we should wear etc.

Outdoor gear is not cheap, some of those cost millions of rupiahs probably about third of average people's salary. It's regards as a big investment, specially when you are starting advanced outdoor activities. The newest products always have a better technology that allow adventurer cope with the challenges. In Indonesia to buy these products need second or third thought, especially when you have limited options.

My experience in Nepal where you'll find fake gears as easy as find a cup of chai that sometimes we have to lower our expectation. But if comes to safety, I wouldn't dare. My dream about outdoor shops in Indonesia would be like fashion retail just what North Face did in foreign outlets. More hip, with knowledge to help customer for better size or color, have a trial mode indoor to allow you playing with boots and sandals.

pic. TNF store in Italy

Other experience in USA when I bought backpack for Everest Base Camp trekking is another good sample. My body is pretty small, petite Indonesian. It will problem to find backpacks that fit with length of my upper body. When I arrived in REI, I already have list of brands to try out. Well, I ended up have to try the ones that available on store. An assistant helped me to fit it and put enough weight to see how its works. He allowed me to wear backpack up-down the stairs, walking trough flat terrain inside the shops for more than 30-40 minutes. The experiences and expertise that I couldn't get in Indonesia.

Yes some products can be buy online though. But some can't. Product that you never buy before or don't know the size as each brand having their own measurement. (if you notice, some brand follow US or UK/Europe size chart depend on their home based). I bought Berghaus jacket online which was OK because most of close family know the quality. Adventures backpacks and boots are different. They have to fit with our anatomy which is different for everybody. We're all unique.

I'm really wish Eiger Indonesia would bring a light for new concept of outdoor shop. As a home brew gear producer, Eiger and others company should be fully supported. We should proud that we actually made our own with our design. I knew some of their products from catalogue and some of them looks great. Eiger should evolve and change into hippier shops. (I would not say as trendier as sometime this would sacrifice the quality) and making outdoor activities is more kind a hobby for any range of ages or social class. Rather than believe an old myth that hiking or climbing is highskol pursuit.

Again thanks for Eiger Indonesia. And please keep it up!

Labels: , ,


About me

  • I'm --ambar--
  • From Sunnyvale, CA, United States
  • A self confessed travel junkies. Enjoys masochistic trekking as well as her Mac. Proud being Indonesian and Javanese where you'll find humble smiles
  • My profile

Last posts

Ambar's Sources

Ambar in other places

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from ambar_briastuti. Make your own badge here.

How to contact Ambar

  • ambar at ceritaambar.com
  • ambar at indobackpacker.com
  • Yahoo IM: ambar_briastuti
  • Gtalk : ambar.briastuti
  • Skype: ambarbriastuti

  • My status

ATOM 0.3


Primary Pulmonary Hypertension --> Creative Commons License
Jika suka artikel disini kontak dulu/beri reference untuk mengutip. Blog ini memakai Creative Commons Licence.