hi CeritaAmbar
http://www.edmontonroyalpurple.com/menutoadmin.php?stone=xwm2e769awk5ws
Ambar Briastuti
Good evening CeritaAmbar
http://www.kinderort.ch/searchusers.php?pretty=n2vqcgquvt7v4d91
Ambar
Petunjuk ini saya tulis sebagai ungkapan agar rekan-rekan berhati-hati dalam memesan tiket murah di Airasia (AA). Sebagai catatan, guidelines ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang lebih utuh tentang praktek LCC (low cost carriage) dengan konsekuensinya.
Saya sering menemui keluhan penumpang lain ketika mencoba AA. Salah satu sumber yang disalahkan menurut saya adalah Terms dan Conditions (Syarat dan Ketentuan AA) yang tidak diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sehingga membingungkan calon penumpang dan pemesan tiket. Satu hal yang cukup menganggu adalah juga tidak munculnya FAQs (Frequently Asked Questions) di situs AA Indonesia –diakses per 23 Nov 2009 11:32 PST sehingga pertanyaan yang praktis dan sangat berguna menjadi tidak terjawab. AA Indonesia mengandalkan Call Center untuk menghandel pertanyaan kustomer yang sebenarnya sudah tersedia secara jelas di website. Ini saya katagorikan sebagai MENGABAIKAN kustomer yang mempunyai keterbatasan berbahasa Inggris yang biasanya muncul dalam bahasa kontrak yang mbulet alias rumit dan butuh pemahaman lebih,
Perlu ditegaskan, saya adalah kustomer setia dan tidak pernah kecewa dengan AA. Ini sebagai sharing untuk berpikir jernih sebelum memesan tiket dan siap dengan pertanggungjawabannya.
1. Pada Budget Flight, salah satu strategi marketing adalah ‘impulsive’ yakni calon penumpang tertarik dan segera memesan dalam waktu yang terbatas, dan jumlah kursi yang dibatasi. Calon penumpang menjadi berlomba-lomba untuk memesan dan terkadang tidak membuat pertimbangan matang. Konsekuensinya adalah jika jadwal kita bergeser maka biaya penggantian nama, skedul dan fee admin menjadi sumber pemasukan AA berikutnya.
2. AA adalah perusahaan internasional dengan operator di tingkat negara dengan kondisi dan kualitas yang berbeda. Terdapat 3 operator, yakni Malaysia (AK), Indonesia (QZ), Thailand (FD) dan khusus Airasia X (D7) yang menangani penerbangan jarak jauh (long haul). Ini juga dipahami bahwa walaupun websitenya dalam satu portal tetapi kebijakan tarip, pajak, biaya tambahan dll di lapangan dan praktik adalah bergantung pada masing2 negara. Jadi pelajari tiket, siapa yang mengeluarkannya. Jika rute pesawat adalah Jakarta-Singapura maka operatornya adalah AA Indonesia (QZ), sedangkan rute Jakarta-Phuket adalah dioperasikan oleh AA Thailand (FD).
3. Pada masa SALE, tiket dijual dengan ketentuan2 tertentu yang mengikat. Salah satunya yang sering dipakai adalah tidak bisa direfund. Pembatasan ini membuat pemesan tiket yang udah beli tapi tidak bisa berangkat memilih menghanguskan tiket atau mengganti pada hari lain yang fleksibelitasnya kurang. Fenomena hangus tiket ini juga diindikasikan karena harga yang murah ataupun ketidak mauan penumpang untuk membayar biaya fee. Jika misalnya harga tiket (inc tax) adalah Rp 100ribu, sedangkan ongkos penggantian adalah Rp 150ribu, maka penumpang ditempatkan pada pilihan sulit. Karena itu teliti dahulu syarat ketentuan pada periode penjualan sale.
4. Processing Fee Service adalah tarip pemesanan yang dibebankan pada penumpang yang memesan TIDAK melalui onlen. Termasuk fee untuk refund (pembayaran kembali), infant (anak-anak), change flight/name (ganti nama atau penerbangan) plus layanan itu sendiri (Service). AA juga menarik RM100/GBP20 untuk penggantian nama dan penerbangan yang dilakukan via internet. Misalnya, saya mempunyai tiket KL-London ingin merubah jadual penerbangan. Dengan onlen saya dikenai RM100 sedangkan jika lewat Call Center/Kanto Perwakilan/Kantor Penjualan saya dikenai service RM 30, menjadi RM130. Secara umum perubahan di tiket akan lebih murah melalui onlen walaupun tetap dikenai biaya tambahan. Besarnya processing fee ini juga cukup membingungkan karena didasarkan pada masing2 operator (baca nomer2 diatas).
5. Pada penjualan FREESEAT atau tiket gratis, adalah metode iklan yang cenderung mislead. Gratis disini adalah tidak termasuk pajak dan biaya tambahan lainnya walaupun dalam harga ditulis Rp. 0 tetapi pada akhir transaksi penumpang tetap membayar dengan tarip yang disebut sangat murah. Di Eropa, praktek Freeseat ini mendapat kritik pedas ketika Ryanair memasarkan strategi yang sama. Pihak Badan Pengontrol Iklan (Advertising Standard Authority) di Inggris akhirnya melarang iklan ini. AA sendiri memanfaatkan lemahnya kontrol pengawas media di Malaysia dan Asia khususnya untuk meloloskan Kampanye Freeseat ini.
Dalam keterangan pers 7 Januari 2004, Menteri Urusan Konsumen dan Penjualan Domestik, Tan Sri Muhyiddin Yassin dengan pihak Manajemen AA diwakili Direktorat Hukum Abdullah Nawawi Mohamad menyatakan tidak ada masalah misinterpretasi dan tidak ada unsur kesengajaan pada penjualan tiket murah. Dalam pernyataan yang sama, AA berargumen bahwa praktik ini juga dipakai oleh maskapai budget terdahulu seperti EasyJet, RyanAir dan Virgin Blue. Dalam hal ini rupanya AA tidak memberikan tambahan penjelasan bahwa praktek Freeseat tsb sudah dilarang di Eropa sejak November 2006 dan ditinggalkan di Australia. Gratis TIDAKSAMADENGAN murah.
6. Biaya Kemudahan ataupun Convenience Fee. Terhitung mulai 2 Nov 2009, AA menerapkan Biaya Kemudahan ini pada SEMUA transaksi dengan menggunakan kartu kredit, kartu debit atau kartu charge. Biaya ini dimasukkkan per orang per rute jalan ketika pemesanan. Yang cukup mengherankan adalah AA tidak menerapkan Biaya Kemudahan ini pada kartu debit langsung (Direct Debit -bukan kartu debit Mastercard atau debit Visa). Besarnya antara SGD$5 hingga RM5. Jadi memesan tiket untuk 3 orang rute Singapura-Jakarta pp maka bersiap untuk membayar biaya tambahan sebesar SGD5 x 3 x 2 menjadi SGD30 dengan menggunakan kartu kredit.
7. Mewaspadai Pajak Bandara (Airport Tax) tidak termasuk dalam harga tiket. Di Indonesia, tiap bandara juga menerapkan tarip berbeda antara domestik dan internasional. Untuk Jakarta, domestik bertarip 40ribu dan internasional adalah 150ribu. Sedangkan di Yogyakarta berlaku 25ribu dan 150ribu. Sedangkan bandara di Cambodia menerapkan USD$25. Malaysia sendiri menerapkan pada rute2 tertentu, yang biasanya adalah operator Airasia X. Misalnya Taipei-Malaysia atau London-Malaysia.
8. Bagasi Supersize dan ketentuannya. Semua penerbangan AA adalah mendapatkan free bagasi tangan maksimum 7kg. Tetapi jika punya bagasi tas (checked baggage) maka calon penumpang harus membayar berdasarkan tingkatan beratnya. AA menerapkan dua system yakni pembayaran lewat pre-book dengan onlen dan pembayaran di konter ketika check in. Secara umum prebook online lebih murah daripada lewat bandara. Proses menambahkannya pun hanya cukup menggunakan Manage My Booking dan akan muncul dalam pembayaran terpisah. Pembayaran di bandara, jatuhnya sangat mahal jika bagasi itu diatas 15kg karena dihitung kelebihan bagasi (excess baggage) yang dihitung per kilo (lihat kolom Services Charges). Dalam FAQs di situs AA dijelaskan ukuran dan berapa banyak bagasi baik untuk bagasi tangan ataupun bagasi cek. (note: again, ngga diterjemahkan oleh AA).
9. Salah satu yang dijual oleh AA adalah Pick A Seat, yaitu kemampuan untuk MEMILIH nomor tempat duduk. Apakah jika kita memesan tiket itu tidak otomatis mendapatkan kursi? Ini yang sepertinya dieksploitasi oleh AA dalam melihat perilaku penumpang khususnya Indonesia. Betapa jelas terlihat ketika kita berebut boarding menuju pesawat, seperti halnya naik kereta ketika Lebaran. Pick Seat ini dijual dalam dua katagori, yakni Standard dan Hot Seat. Katagori Hot seat nampaknya adalah beberapa baris yang dekat dengan pintu darurat. Sesungguhnya semua penumpang telah ditempatkan tempat duduk, terutama jika sudah melakukan check in.
Penumpang merasakan khawatir jika tidak bisa duduk sejajar dengan pacar atau istri misalnya. Pick A Seat adalah semacam garansi bisa DUDUK BERSAMA terutama jika pemesan itu bersifat grup keluarga. Bagi pejalan yang sendirian, rasanya membeli garansi ini tidaklah perlu. Untuk mengalahkan Pick A Seat tanpa mengeluarkan biaya adalah dengan melakukan cek in secara dini. AA menyediakan waktu hingga 2 hari-4jam sebelum penerbangan dengan metode cek in lewat hape (Mobile Check In), Mesin Cek In (Kiosk).
10. Perlukah membeli asuransi penerbangan GoInsure atau tidak. Asuransi di AA juga tergantung pada masing2 operator per Negara. Malaysia adalah Multi-Purpose Insurans Bhd, Thailand adalah Krungthai Panich Insurance Co. Ltd (www.kpi.co.th), Indonesia -PT. Asuransi Dayin Mitra, Tbk, Singapura -EQ Insurance Company Limited (www.eqinsurance.com.sg), China Shenzen adalah The Ming An Insurance Co. Ltd, dan China Macau adalah Asia Insurance. Pertimbangan untuk mengambil asuransi ini didasarkan pada kemungkinan pembatalan, penurunan kualitas, kerusakan bagasi, ataupun penundaan penerbangan. Jumlah dan besaran bervariasi dari pembayaran RM6 untuk domestik Malaysia. Yang agak mengherankan adalah GoInsure untuk Indonesia, Syarat dan Ketentuannya mengacu pada Malaysia, yakni untuk Internasional/Domestik ditangani AIG untuk one way, sedangkan yang return (pp) ditangani Multi Purpose Insurans. Ini cukup membingungkan terutama bagi penumpang yang belum pernah mencoba AA dan mengalami kesulitan memahami siapa dan pihak mana untuk berurusan masalah asuransi jika terjadi klaim.
Petunjuk diatas ini, semata-mata untuk memberikan pemahaman apa saja yang perlu dipikirkan ketika memesan tiket. Juga agar mempersiapkan diri jika terjadi hal-hal diluar dugaan ataupun merasakan biaya yang tersembunyi. Guidelines ini juga membatasi pada layanan tiket murah berikut produk terkait, dengan tidak memperhatikan AA byproduct lain seperti GoHostel dan GoHoliday.
Labels: airlines, indonesia, malaysia, travelling
Untuk kota-kota disekitar London yang jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa dilakukan kunjungan sehari pp, saya rekomendasikan beberapa:
1. Warwick mengunjungi Warwick Castle yang buat saya paling lengkap dan menarik karena kerjasama dengan artis patung lilin di Museum Madame Tussuad jadi suasananya hidup banget. Mereka punya event di saat Natal. Akses kesana dari London bisa dengan kereta sekitar 1jam 45menit langsung dari London Marylebone. Ini cara menuju kesana.
2. Cambridge mengunjungi universitas tertua, menyusuri lorong-lorong sempit, gedung kampusnya yang berusia ratusan tahun. Buat saya sangat photogenic dan kandungan sejarah yang dalam. Silakan dibaca disini http://www.visitcambridge.org Akses menuju Cambridge bisa dengan bis (coach) atau kereta (langsung dari London King Cross). Coba buka website diatas dan klik Travel and Maps. Photo tentang Cambridge bisa dilihat disini.
3. Bath menyaksikan pemandian natural air panas peninggalan romawi, salah satu warisan dunia Inggris juga. Saya sendiri mengagumi arsitektur dan sangat suka dengan konstruksi romawi terutama detail membangun saluran/pipa air panas. Sayang banget kalau dilewatkan, karena Bath dijuluki kota untuk indulgence para aristokrat sejak pendudukan romawi atas pulau Inggris sebelum Masehi atau dua milenia yang lalu. Ohya disana ada Jane Austen Center. Kalau suka baca novel romans klasik inggris seperti Pride and Prejudice pasti kenal karakter Mr. Darcy. Saya sendiri belum sempat ke Jane Austeen Center, tapi mereka hanya tutup pas 25 Desember dan tahun baru. Menuju Bath dari London sekitar 90 menit kereta lewat London Paddington atau 120miles perjalanan kendaraan (diukur rata2 sekitar 1.5-2jam). Ini tautan http://visitbath.co.uk
4. Stratford Upon Avon, adalah kota kelahiran Shakespeare, mengunjungi rumah kediaman ketika menetap di kota ini. Juga pengalaman teater di Royal Shakespeare Company (RSC) yang sesunguhnya (catatan: ada Shakespeare Globe di pinggir sungai Thames di London jika hanya punya waktu sebentar dengan durasi pertunjukkan lebih pendek). Kota Startford sendiri kecil banget, tapi asri dan indah karena dilewati jalur kanal. Untuk menuju Stratford ditempuh dengan kereta dari London Marylebone dan bis. Petunjuk lengkap bisa dibaca di Visit Stratford 

5. Greenwich, mengunjungi Royal Observatory Greenwich (http://www.nmm.ac.uk/). Melihat apa arti GMT Greenwich Mean Time yang sebenarnya, menyaksikan observatorium dan planetarium, berdiri di zero longitute bumi, sejarah tentang asal muasal time zone dst. Salah satu warisan dunia pula di Inggris yang sayang untuk dilewatkan. Greenwich agak diluar London dikit, mengarah ke Canary Wharf yang sekarang jadi distrik bisnis. Turun dari kereta di Cutty Shark Station, trus jalan kaki dikit sekitar 10menitan. Photo lengkap disini
6. Stonehenge, salah satu warisan dunia di Wilthire dekat Salisbury. Stonehenge perlu apresiasi tinggi terutama sejarah dunia dan arkeologi karena isinya cuma batu berdiri hehehe. Juga karena dalam proses renovasi besar2an, dan letaknya di pinggir jalan besar rasanya mungkin akan kecewa kalau ekspektasi-nya terlalu tinggi. Letaknya yang outdoor kemungkinan juga agak menyulitkan bagi yang mengunjungi pada musim dingin.
7. Kew Garden di barat daya London (http://www.kew.org/). Kew Garden paling sip dikunjungi musim semi atau menjelang musim panas disaat bunga sedang mulai mekar. Letak Kew lebih dekat dari London dan sangat mudah diakses dengan publik transport. Dari pusat London ambil kereta underground District Line dan turun di Richmond. Photo tentang Kew bisa dilihat disini 
Labels: travelling, united kingdom
Labels: climbing, indonesia, mountaineering, nepal
Kemarin hari Sumpah Pemuda saya isi dengan sebuah penghormatan besar bagi para pemuda/pemudi Indonesia yang telah merintis mountaineering di Indonesia. Disela pencarian Clara Sumarwati, saya makin terbuka pada peran mereka di era 80-90an. Tanpa melupakan para pendaki Indonesia yang telah mendaki gunung diluar Himalaya, inilah mereka yang akan selalu tercatat dalam sejarah mountaineering Indonesia.
Saya tidak perlu memberikan keterangan apakah pendakian mereka berhasil atau tidak, mencapai puncak atau tidak, pendaki sipil atau militer. Usaha dan jerih payah mereka patut kita hargai sebagai proses bangsa ini untuk makin berjaya. Sangat banyak peran dan kontribusi mereka dan semoga akan terus menginspirasi para pemuda saat ini untuk membawa harum nama Indonesia di kancah dunia internasional.
Inilah daftar tim baik pendaki dan pelatih/penasehat dalam ekspedisi Indonesia di Himalaya periode 80-90an.
Ekspedisi Pumori Musim Semi 1988
Ahmad Gunawan
Eddy Djuandi
Djo Djo Sunardjo Marsana
Veronica Moeliono
Trinovi Sugiarto Senapi
Sukumoyo
Nandang Syamsudin
Ekpedisi Kangchengjunga Musim Semi 1989
Eddy Djuandi
Achmad Gunawan
Trinovi Sugiarto Senapi
Djojo Sunarjo
Ekpedisi Makalu Musim Semi 1990
Taufiz Afriansyah
Irawan Ari Muladi
Gatot Hendratno
Dedi Agus Indra Setiawan
Iskandar
Tumbur Haposan Parlimongan Nainggolan
Bambang Setio Reharjo
Rachmat Rukmantara
Mamay Salim
Ekspedisi Annapurna IV Musim Gugur 1990
Aryati
Puspita Nursari
Evie Rossetyawati
Santinalia
Imas Erni Sufraeni
Clara Sumarwati
Octavianus Matakupan
Nicolas Waworuntu
Ekpedisi Everest Musim Gugur 1994
Anton Patandung
Gibang Basuki
Hendri Chaniago
Jantje Marmuaja
Ranu Misran
Clara Sumarwati
Ekspedisi Nuptse Musim Panas 1996
Endang Suhendra
Achmad Fadillah
Suharjo
Ekspedisi Everest Musim Gugur 1996
Clara Sumarwati
Gibang Basuki
Ekpedisi Everest Musim Semi 1997 (sisi selatan)
Iwan Setiawan
Edhie Wibowo
Adiseno
Asmujiono
Darlin
Galih Donikara
Iwan Irawan
Misirin
Ripto Mulyono
Rochadi
Sixida Sugiarto
Suparno
Edi Waluyo
Ekspedisi Everest Musim Semi 1997 (sisi utara)
Sudarto
Daryowantoro
Achmad Gunawan
Erick Kusmana
Octavianus Matakupan
Rudi Nurcahyo
Sunardi
Tarmudi
Labels: climbing, indonesia, mountaineering, nepal
Disela menelusuri cerita Clara Sumarwati saya menemui tulisan Anatoli Boukreev yang menjadi guide Tim Ekspedisi Indonesia ke Everest'97. Tulisannya saya pandang cukup penting terutama aspek jeda waktu antara pendakian Clara di musim gugur'96 dan pendakian Kopassus/MapalaUI/Wanadri musim semi 97 yang hanya 6bulan.
Saya menemukan bahwa tulisan Boukreev sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan dipasang di beberapa blog mapala ataupun (telah) beredar di milis lain. Saya kesulitan melacak siapa sebenarnya penerjemah (baik yang original ataupun terjemahan kedua dst). Saya melihat antara posting satu dengan yang lain saling berbeda, membuat saya makin yakin bahwa sumber internet terkadang tidak bisa dijadikan sumber utama.
Ada tulisan yang tidak lengkap, ataupun hanya mengalih-bahasakan yang berhubungan dengan tim Indonesia saja. Perlu diperhatikan Boukreev adalah orang Kazakh dan merekam personal account dalam bahasa Rusia yang kemudian diterjemahkan oleh kawannya di US dan ditulis di buku.
Tulisan Boukreev diambil dari bukunya berjudul The Climb: Tragic Ambition on Everest bagian Epilog atau sekitar 15halaman dari ratusan. Sebulan setelah terbit, Boukreev tewas dalam avalanches di Annapurna I. Saya pengen tulisan Boukreev dialihbahasakan sesuai dengan aslinya sebagai rasa hormat saya padanya. Bagaimanapun ia sudah berjasa besar bagi Indonesia. Tanpa mengurangi peran para penerjemah terdahulu saya kemudian mengulangi dari nol, ketimbang memperbaiki terjemahan yang sudah ada. Semata-mata agar bisa dibedakan versi saya dan versi terdahulu. Saya beri nama BOUKREEV_v1.0 (versi pertama karena kemungkinan ada koreksi/kolaborasi dari teman-teman).
Adapun perbaikan dan beberapa hal yang saya lakukan:

Berbagai komentar sampai ke saya tentang tulisan sebelumnya: Clara, Everest, Prabowo dan kisah Beautiful Mind. Tulisan itu saya publish pertama di milis Highcamp (Senin 12 Oct 09 on 9:06am WIB) dan ceritaambar.com. Sehari kemudian, yakni Selasa 13 Oct 09 on 09:45 WIB, saya repost di blog multiply yang relay summary ke facebook.
Kisah yang saya paparkan adalah sebuah analisa dari sekian tahun dan upaya penggalian data yang tentu sangat terbatas karena saya mengandalkan pada sumber sekunder. Tulisan Gatra misalnya, tidak bisa saya dapatkan ‘asli’ melainkan dari kutipan-kutipan dan reposting yang ditempelkan di blog2 pribadi. Karena itu kemungkinan terjadi manipulasi sangat besar. Tetapi sebagai langkah awal cukup banyak membantu karena berkat mereka pula saya bisa mencari tahu lebih dalam.
Sikap saya dalam kasus Clara adalah mencoba menelusuri catatan prestasinya dari luar negeri. Ini disebabkan susah sekali mendapatkan data yang lengkap tentang ekspedisi2 yang dilakukan Indonesia. Entah karena tidak ada dokumentasi lengkap, ataupun jurnalis yang mengkhususkan soal ini[1]. Terlepas dari teori konspirasi yang saya paparkan di tulisan sebelumnya, sebenarnya bukan itu yang menjadi titik tolak pencarian.
Ketertarikan awal tentang Clara berangkat dari kontroversi pendakiannya, terutama masalah photo [2]. Pengakuannya diragukan kalangan pendaki dalam negeri terutama masalah bukti foto dan sertifikat dari CMA China Mountaineering Association (CMA) dan China Tibet Mountaineering Association (CTMA). Foto yang nampak di Gatra adalah tentu saja muka seorang pendaki dengan masker oksigen dalam balutan down suit[3]. Tidak ada yang bisa menebak apakah dia laki-laki atau perempuan, apakah dia Clara atau Sherpa, apakah itu di puncak Everest atau di bawahnya. Sertifikat yang dibilang Clara, dituduh sebagai hasil membeli dari Asosiasi Mountaineering China.
Dalam beberapa photo di Gatra, ada dua photo di puncak. Yakni ketika ia (asumsinya Clara) mengacungkan ice axe-kapak es dengan tangan kanannya ke udara sedangkan satu photo lagi adalah ketika ia memegang bendera merah putih diterpa angin. Photo terakhir ini menarik karena terdapat jejak tanggal di sana. Kamera analog dan film memberikan jejak tanggal pengambilan sama seperti kamera digital dengan data EXIF. Karena kualitas posting internet dan scanning, saya tidak bisa melacak tanggal puncak. Ini terutama letak jejak tulisan analog tadi tertutup oleh kemilau salju dan hasil scan dengan resolusi yang rendah. Saya masih berharap ada yang mempunyai hard copy Gatra tahun 1996 mengirimkan ke saya atau bersedia memberikan hasil scan yang tentu dengan tehnologi lebih baik dibanding 13 tahun yang silam[4].
Rencana saya adalah membandingkan photo2 Clara dengan para pendaki dunia yang mencapai puncak dari Tibet. Perlu diketahui ada banyak jalur menuju Everest. Dalam catatan everesthistory.com ia menggunakan jalur NC-NE (North Col-North East Ridge atau gigir Timur Laut). Sedangkan dari buku Everest: A Mountaineering History (1999) karya Walt Unsworth, Clara tercatat menggunakan rute North Ridge-North Face. Ini juga dinyatakan positif oleh Reinhold Messner –pendaki Italia ternama di bukunya Everest: Expedition to the Ultimate (1999).
Dalam halaman 254 Messner mengutip Clara menggunakan rute North Col/North Face atas nama Indonesian Expedition. Clara dinyatakan berhasil mencapai puncak Everest bersama dengan Sherpa Kaji, Sherpa Gyalzen, Sherpa Ang Gyalzen, Dawa Tsering, dan Sherpa Chuwang Nima dalam nomor urut ekspedisi 255.[5]
Clara mendaki pada bulan September ketika di Tibet/Nepal disebut post monsoon atau berakhirnya musim badai (dari halaman 664 buku Unsworth di bagian Appendix 4). Jadi membandingkan photo dan kondisi puncak adalah mencari hasil bidikan para pendaki yang mencapai puncak pada sekitar bulan itu ataupun pada cuaca yang hampir sama.[6] Yang cukup menarik adalah tim-tim setelah bulan itu tidak mampu mencapai puncak kecuali tim dari Korea Selatan yang berhasil melalui rute Nepal (South East Ridge), rute yang berbeda dengan yang diambil Clara.
Tim yang disebut-sebut Clara berbagi rute dengannya seperti Afrika (yang benar adalah Afrika Selatan dipimpin Alex Harris) dan tim gabungan berbagai negara (US-Chech-Yugoslovakia dan Chech-UK-Slovakian) semuanya tidak berhasil mencapai puncak. Termasuk upaya illegal dari dua orang Belgia yang ketauan di Icefall dan dilarang naik gunung Everest selama 10tahun.
Dalam keterangan di majalah Gatra, Clara menyebut bahwa ia meminta jasa merintis rute North Ridge pada tim-tim ekspedisi lain. Menurut saya ini bisa dimaklumi. Karena Clara dan tim Indonesia pertama kali datang ke rute ini pasca monsoon di bulan September. Yang berarti rute lama tertutup salju dan kemungkinan rusak. Sebenarnya yang dimaksud Clara adalah bukan membuat rute baru, melainkan lebih pada “menemukan kembali” rute yang tertutup salju tebal dan hilang ataupun susah ditemukan.

Sedangkan soal sertifikat dari CMA dan CTMA, saya tidak bisa memberi komentar.[7] Kecuali saya harus mengkonfirmasikannya pada lembaga ini langsung. Kesulitan saya adalah bahasa dan birokrasi. Juga saya perkirakan adalah dokumentasi, apakah kedua lembaga ini menyimpan copy sertifikat atau tidak. Let’s see. Saya masih gerilya mencari konfirmasi sana sini.
Saya menegaskan bahwa sertifikat itu TIDAK menunjukkan apakah Clara sampai di puncak atau tidak. Melainkan semacam ijin ekspedisi dan sebagai surat sakti untuk diperbolehkan mendaki. Ini karena rute yang ditempuh Clara adalah melalui Tibet yang saat ini dikuasai China dengan cara kekerasan di tahun 60an. Pemerintah China menjaga situasi Everest dan perbatasan ini karena banyaknya orang Tibet yang menyeberang lari menuju India –tempat Dalai Lama memimpin dengan melewati pegunungan Himalaya.
Di tahun 1960an, seorang jurnalis wanita asal Amerika Elizabeth Hawley memulai data tentang para pendaki yang melakukan ekspedisi di wilayah Himalaya. Tidak hanya Everest, tetapi mencakup Cho Oyu hingga K2 yang masuk wilayah Pakistan. Karena begitu berharganya klaim seseorang mendaki gunung Eeverest, ia akhirnya menjadi semacam juru konfirmasi, baik dari sisi Nepal ataupun Tibet. Miss Hawley melakukan wawancara langsung dengan pendaki, menanyai mereka dengan pertanyaan pedas dan tajam, serta melakukan kros cek dengan tim lain yang mendaki bersama. Pertanyaannya seperti, cuaca ketika mendaki, disisi mana ia meletakkan kemah, pukul berapa ia mulai naik dsb. Deretan pertanyaan yang mungkin sangat mengganggu bagi pendaki tetapi sangat penting bagi catatan sejarah. Seorang pendaki dinyatakan sah jika Miss Hawley berkata iya. Tingkat akurasi dan hasil investigasi yang menyeluruh ini membuat reputasi Miss Hawley sebagai sejawaran eskpedisi Himalaya paling disegani. Kompilasi data Miss Hawley ini kemudian dibuat dalam program software yang dsebut himalayandatabases.com
Belajar dari kesalahan sejarah, di tahun 1950an tim China berhasil mencapai First Step di rute Tibet, tetapi dibilang bohong oleh para pendaki Barat, khususnya Eropa. Ini merupakan pukulan bagi mereka karena China baru masuk panggung lomba Everest dalam lima tahun. Bagaimana mungkin pemain baru mampu menandingi kemampuan George Mallory dan Andrew Irvine yang menghilang di tahun 1924? Selain arogansi pendaki Barat terhadap kemampuan pendaki Asia, ini juga menunjukkan bahwa klaim pendaki perlu ditelusuri dengan lebih seksama dengan pikiran terbuka.[8]
Saya hanya bisa meminta pada publik untuk tidak menghakimi seseorang sebelum bukti menunjukkan yang sesungguhnya. Bukti primer dan sekunder baik tertulis dan tidak, bisa ditelusuri yang semoga ini yang akan dilakukan oleh Tim Menpora. Kejanggalan yang membuat keraguan, memang bisa dijelaskan. Dan teori konspirasi akan selalu hidup, menjadikan bumbu kisah ekspedisi Clara makin menarik. Bukankah misteri akan membuat kisah makin dikenang?
Catatan kaki:
[1] Saya jadi inget Norman Edwin, pahlawan adventur Indonesia yang juga jurnalis Kompas. Ia banyak menulis di jurnal Wanadri dan memberikan laporan ekspedisi di era hangatnya kegiatan ini tahun 90an. Didiek Samsu –rekannya mendaki Aconcagua juga wartawan Jakarta Jakarta.
[2] Ini karena sebelumnya saya pernah menganalisa photo2 Mayangsari dengan metode digital forensik, yang bisa dibaca disini
[3] Baju yang didesain memberikan kehangatan ekstra pada ekspedisi di tempat ekstrem seperti Alaska, Himalaya, Antartika. Diisi dengan bahan alami yakni bulu angsa tebal yang membuat pendaki terlihat seperti astronout. Salah satu contohnya disini.
[4] Tolong banget jika bersedia, sudilah menscan dari majalah dengan resolusi minimal 300dpi.
[5] Saya sertakan screen shot dari halaman kedua buku tsb, yang menyebut Clara, dengan menggunakan fasilitas ‘look inside’ dari amazon.com –toko buku online. Catatan : screen shot tidak bisa ditampilkan di milis, tetapi muncul di blog ceritaambar.com
[6] Sejarah iklim dan temperature Himalaya banyak sekali tersedia secara literatur, ataupun deskrepsi pendaki dalam rentang waktu yang bersamaan dengan medio pendakian Clara.
[7] Contoh sertifikat yang diberikan CMA bisa dilihat disini.
[8] Klaim tim China ini dikuatkan dengan film dan photo, tetapi ditolak oleh pendaki Eropa. Namun penemuan mayat Mallory di tahun 1996 oleh Ekspedisi Pencarian Mallory & Irvine membuktikan bahwa China memang hampir mencapai puncak Everest di tahun 1950, tiga tahun sebelum Hillary dan Tenzing.
Labels: climbing, indonesia, mountaineering, photography
Empat tahun lalu ketika saya mulai tersedot tentang sejarah Everest, sebuah nama terlintas. Clara Sumarwati.
Clara who?
Itu adalah reaksi saya ditengah upaya mencari berita tentang ‘perlombaan’ tim wanita Asia Tenggara untuk menaklukan Everest. Saat itu 2006, tim putri dari Singapura sedang dalam proses kampanye lewat media massa. Target mereka jelas sekali, yakni menjadi tim putri Asteng pertama yang menancapkan bendera di atap dunia.
Tim Putri Indonesia kemudian muncul sebagai tandingan. Dalam suasana hingar bingar dan kompetisi yang ketat dengan negara tetangga, sungguh ini dalam posisi yang tidak nyaman. Tsunami dan gempa di Aceh memakan ratusan ribu jiwa, terutama di kepemimpinan SBY yang seumuran jagung. Indonesia dalam carut marut.
Kaitan politik, bencana alam dan kegiatan adventur ternyata saling berhubungan. Bukankah keputusan mengirim tim putra Indonesia ke Everest di tahun 1997 adalah juga politik dengan alasan nasionalisme? Bahwa seorang Indonesia harus lebih dulu menjejak puncak dunia sebelum negara tetangga, dengan alasan apapun, dengan taruhan nyawa sekalipun.[1]
Disinilah kisah Clara mulai masuk panggung adventur dan politik. Terlahir 6 Juli 1967 sebagai anak ke 6 dari delapan anak Marcus Mariun dan Ana Suwarti, Clara menghabiskan masa kecil di Jogya hingga kuliah di Universitas Atmajaya jurusan Psikologi Pendidikan. Di tahun 1991 ia bergabung dengan tim pendaki Indonesia untuk menaklukan Annapurna IV yang mengantarkan rekannya Aryati menjadi wanita Asia pertama di puncaknya. Pada Januari 1993, Clara bersama tiga perempuan Indonesia menaklukan Aconcagua, salah satu puncak 7summit di Amerika Latin.[2]
Clara bersama tim PPGAD Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat –diduga sebagai sempalan militer untuk menandingi tim militer Kopassus/Wanadri melakukan ekspedisi low profile di tahun 1996. Menurut Gatra, tim ini hanya mampu mencapai ketinggian 7000m di punggungan South Col (gigir atau sadel gunung antara Everest and Lhotse rute pendakian dari Nepal).
Walau gagal, Clara berusaha menggalang dana untuk melakukan upaya kedua menancapkan merah putih pada 17 Agustus 1995 [3] yakni tepat 50 tahun kemerdekaan Indonesia. Clara kemudian mendapat kepastian bahwa upayanya akan dibantu oleh pemerintah yang diwakili Panitia Ulang Tahun Emas Kemerdekaan Republik Indonesia yang saat itu dibawah Sekretariat Negara.
Clara terpaksa mengundurkan ekspedisinya bulan Juli 1996 setelah memperoleh kepastian dana (yang saya sinyalir adalah upaya orang tententu untuk ‘mengganggu’ Prabowo mengirim anak buahnya menjadi orang pertama di puncak dunia ie membuat ia menjadi pahlawan).
Perlu dicatat, Gatra sendiri menurunkan berita tanpa mengaitkan dengan kondisi politik karena begitu sensitivenya situasi era menjelang berakhirnya Orde Baru. (kerusuhan Mei, desas-desus kup oleh Prabowo dan militer, mundurnya Suharto hingga chaos-nya situasi politik di tanah air). Tetapi sinyalemen itu diungkapkan Clara dengan jelas terutama kisah tentang adanya upaya dari pihak Prabowo dan militer untuk membuatnya membatalkan ekspedisi. [4]
Upaya untuk menghentikan Clara dimulai dari ringan hingga berat. Terakhir saya kontak, ia tidak mau menyebutkan secara detail. Tetapi bagi yang akrab dengan suasana represif di akhir 90an tentu bisa memahami. Saya sendiri ketika mendengar versinya hanya bisa bilang WOW!
Butuh setengah jam untuk mencerna. Saya mencoba untuk tidak menuduhnya pembohong ataupun tukang ngarang. Sungguh ceritanya adalah kombinasi antara kulminasi terror dan paranoia, imanjinasi dan suspense. Saya berusaha meyakinkannya bahwa ketakutan dan kekhawatiran itu sudah tidak ada. Sejarah menunjukkan Prabowo tidak menjadi pengganti Suharto. Dan ia terpaksa keluar Indonesia untuk menghindari balas dendam politik.
Pada 27 Agustus 1996 [5]pukul 1600 ditemani empat orang Sherpa (Dhawa, Ghalzen Kecil, dan Kaji,), Clara mencapai puncak Everest . Ia berdoa dengan 50X salam Maria, menyanyikan Indonesia Raya sambil memegang bendera merah putih. Berpose di puncak dengan majalah Time bersampul Presiden Suharto.[6]
Kabar tentang seorang Indonesia berhasil mendahului tim ‘resmi’ menaklukan Everest tentu diterima dengan ketidak percayaan. Sebagian besar pendaki meyakini bahwa Clara hanyalah membual, berimajinasi. Terutama ia tidak bisa memberikan bukti kuat. Salah satu bukti adalah photo dirinya yang berada di puncak Everest.[7] Tentu saja kecemburuan dan faktor sexist berperan disini. Atmosfer adventur Indonesia dalam kompetisi individual yang kuat membuat klaim Clara seperti cerita dongeng. Bukan saja kecemburuan dari pendaki laki-laki tetapi muncul pula nada ketidak percayaan bahkan dari rekan pendaki perempuan.[8]
Clara sendiri setiba di tanah air kemudian menghadap Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia yang saat itu diketuai Wismoyo Arismunandar. Dalam tahun yang sama ia menerima Bintang Nararya yang dikeluarkan oleh Sekneg dengan tandatangan Presiden RI.
Yang membuat ragu apakah Clara berhasil mencapai puncak adalah tidak adanya catatan resmi. Sejak awal tahun 50an ekspedisi pendakian Everest baik sisi Nepal dan Tibet dicatat oleh seorang jurnalis perempuan dari Chicago Amerika bernama Elizabeth Hawley. Meski bukan pendaki, Miss Hawley dikenal dengan catatan kronikel akurat mengenai ekspedisi, baik yang sukses maupun gagal. Berhasil mencapai puncak atau tewas. Miss Hawley ini melakukan wawancara langsung pada pendaki dan Sherpa, melakukan kros cek, bahkan meminta konfirmasi deskripsi tempat dan suasana.[9]
Statistik Miss Hawley kemudian dikompilasi berdasarkan kronologis tahun pendakian dan dipandang sebagai catatan paling akurat dan bisa dipercaya. Ketika era internet medio akhir tahun 90an masih samar dan tidak punya kredibilitas, mountainzone.com adalah satu2nya sumber yang kemudian mengutip data dari Miss Hawley sebelum ditayangkan di internet worldwide. Di tahun 2004, databases kompilasinya kemudian dibuat dalam bentuk CD (Visual Vox Pro) dan buku bersama Richard Salisbury dalam himalayandatabase.com
Menariknya, Miss Hawley tidak menyebut Clara Sumarwati dalam statistik Himalayan Databases. Orang Indonesia yang tercatat adalah Mr. Asmujino mencapai puncak 11.10.1996 melewati rute South E. Ridge dalam nomor urut 58 dan Mr. Misrin sampai puncak 26.4.1997 lewat South E. Ridge dengan nomor urut 68. Walaupun dalam database disebutkan Misirin masuk tim Korea tetapi kemungkinan ini adalah konfirmasi mencapai puncak dikabarkan oleh tim Korea atau proses konfirmasi klaim Misrin dianggap positif oleh Miss Hawley pada tanggal itu lewat kros cek dengan anggota tim Korea.
Namun dalam referensi everesthistory.com Clara Sumarwati adalah pendaki Everest ke 88 dari Indonesia mencapai puncak pada 26 September 1996 melewati rute NC-NE Ridge (North Col-North East Ridge atau gigir Timur Laut). Ini dikuatkan dengan keterangan laporan Gatra bahwa dua buku : Everest karya Walt Unsworth (1999), dan Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (1999) mencantumkan nama Clara sebagai pendaki Everest Indonesia pertama.
Kemungkinan tidak tercatatnya Clara karena masalah ijin/climbing permits. Seperti diketahui Everest menjadi komoditi pemerintah Nepal dan China untuk mengeruk keuntungan finansial sebanyak mungkin. Fee untuk mendaki di Everest bisa mencapai $70,000 untuk tim beranggotakan 10 orang. Karena mahal inilah, pendaki banyak yang mencoba di luar musim mendaki (April-Juni) ataupun menggabungkan diri dengan anggota tim lain tanpa keterikatan kebangsaan.
Keraguan tentang keberhasilan Clara ini makin menguat ketika sosoknya menjadi misterius. Ia dikenal tidak ramah pada media ataupun orang yang tidak mempercayai prestasinya. Ia juga menjadi begitu paranoia akan adanya orang-orang yang (masih) berusaha menghentikannya ataupun membungkam mulutnya. Ini juga menjelaskan kenapa keberhasilan tim Kopassus/Wanadri diberitakan besar-besaran ketimbang kesuksesan Clara yang cenderung ‘ditiadakan’.
Dalam korespondensi, saya menangkap ketakutan itu, walaupun saya coba meyakinkannya bahwa kondisi politik tidaklah seperti dekade silam. Agaknya trauma dan paranoia mengambil alih kesadarannya. Luka dalam itu, yang entah apakah kita bisa memakluminya atau tidak telah meninggalkan jejak mendalam. Kekecewaan dan keputusasaannya untuk meyakinkan orang lain nampaknya membawa pada tepi kesadaran.
Seorang teman berkomentar tentang Clara. Ia seperti John Forbes Nash, seorang ahli matematika yang berjuang puluhan tahun menghadapi schizophrenia dalam film Beautiful Mind. Seorang yang menderita penyakit ini dituduh publik sebagai orang gila. Ia bisa saja ngoceh ngga karuan, ataupun hidup dalam dunianya sendiri. Batas antara jenius dan madness terkadang hanya benang tipis. Tetapi bukan berarti seorang penderita adalah pembohong. Saya hanya ingin menegaskan bahwa Clara belum tentu seorang pembual. Sebagai orang berpikiran terbuka, saya menyadari bahwa mungkin ia mencapai puncak, dan mungkin juga tidak. Tapi jikalaupun iya, tidak akan bisa menghapus sejarah bahwa Clara-lah orang Indonesia pertama yang mencapai puncak Everest.
Bagaimanapun Clara adalah seorang pahlawan bagi adventur Indonesia. Ia bisa membuktikan bahwa seorang ‘independen’ adventure bisa melakukan tugas mulia tanpa puluhan dan ratusan anggota tim. Betul, ia seperti seekor elang yang sendirian. Tetapi seekor elang dengan beautiful mind tentulah lebih menakutkan.
Semoga Clara lekas sembuh.
=======
Catatan kaki:
[1]Anatoli Boukrev, guide tim Indonesia dalam bukunya The Climb membilang,” There is discipline, they understand the risk. I told them, you can succeed -- it's not likely the first time, maybe 25 per cent, but you CAN succeed. You can also die.
[2]Hasil investigasi tim Gatra dan Jakarta Pos yang terbit February 1996.
[3]Menurut saya, target ini sangat ambisius karena Agustus di Nepal sudah memasuki moonson atau musim badai. Umumnya pendaki Everest mencoba peruntungan jendela waktu antara April-Mei dengan kondisi cuaca yang lebih ramah.
[4]Keterangan Clara ini adalah dari koresponden pribadi antara saya dan dia di bulan September 2006.
[5] Kronologis dan deskrepsi camp yang diberikan Clara via reporter Gatra Abdul Latief Siregar tidak begitu detail termasuk ketinggian dan situasi geografis camp.
[6] Saya perkirakan adalah majalah Time terbitan Juli 1996 dengan headlines The Land of the Communist Lost.
[7] Clara mengungkapkan bahwa photo2 pendakian sebagian musnah dalam kebakaran di tempat kosnya, sebuah scenario yang diyakininya sebagai upaya mengdeskretditkannya.
[8]Tim eskpedisi laki-laki memberikan degradasi bahwa ekspedisi perempuan selalu bisa ‘dijual’ kepada sponsor ketimbang tim mayoritas laki2 ataupun campuran. Kecemburuan ini amat jamak terjadi dalam dunia adventur, tidak hanya terjadi di Indonesia. –baca Savage Mountain The Life and Death of the First Women of K2.
[9]Metode pencarian data secara konvensional ini bisa dibaca di buku biografi Elizabeth Hawley, I’ll Call You in Kathmandu.
Related Posting:
Indonesian Everest's Women Team 2007 : A Sound of Dripping Water
